Poin Penting
Jakarta – PT Bank Bumi Arta melakukan penyegaran pada jajaran pengurusnya. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 20 Oktober 2025, pemegang saham menyetujui perubahan struktur manajemen perseroan, mencakup posisi dewan komisaris dan direksi.
Dalam keputusan RUPSLB tersebut, pemegang saham sepakat untuk mengangkat T. Hendra Jonathan sebagai Presiden Komisaris (non independen) peseroan.
“Hendra menggantikan almarhum Ir. Rachmat Mulia Suryahusada, yang sebelumnya menjabat di posisi yang sama,” kata manajemen Bank Bumi Arta dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, dikutip 22 Oktober 2025.
Masa jabatan Hendra akan berlaku hingga Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2029, dengan efektivitas pengangkatan mulai tujuh hari kerja setelah diperolehnya persetujuan fit and proper test dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sementara itu, RUPSLB Bank Bumi Artha juga menyetujui pemberhentian Aditya Putra Utama dari jabatannya sebagai Direktur yang membidangi Perbankan Digital. Keputusan tersebut berlaku efektif sejak penutupan RUPSLB.
Pihak manajemen menegaskan, tidak terdapat informasi atau kejadian material lainnya yang perlu diungkapkan terkait perubahan struktur pengurus tersebut.
Berdasarkan hasil RUPSLB Bank Bumi Arta, berikut susunan komisaris dan direksi terbaru:
Hingga kuartal II 2025, kinerja keuangan Bank Bumi Arta masih mengalami tekanan. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, perolehan laba bersih perseroan turun 55,34 persen dari Rp43,34 miliar di Juni 2024 menjadi Rp19,35 miliar.
Penurunan laba bersih dipicu dari pendapatan bunga bersih yang terkoreksi tipis 1,49 persen menjadi Rp163,29 miliar ketimbang tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar Rp165,77 miliar.
Tak hanya itu, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) perseroan tercatat merangkak naik dari 81,73 persen (Juni 2024) menjadi 91,23 persen (Juni 2025).
Kabar baiknya, kinerja kredit Bank Bumi Arta tetap solid. Per Juni 2025, kredit perseroan mencapai Rp4,74 triliun atau tumbuh 14,52 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp4,14 triliun.
Dari sisi funding, Dana Pihak Ketiga (DPK) perseroan juga tumbuh 12,28 persen dari Rp5,02 triliun di Juni 2024 menjadi Rp5,63 triliun. Menutup kuartal II 2026, total aset Bank Bumi Arta mencapai Rp9,05 triliun. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Pemerintah memperpanjang penempatan Rp200 triliun di bank-bank milik negara hingga September 2026 untuk… Read More
Poin Penting Studi CELIOS menunjukkan Program MBG bisa membuang 62–125 juta porsi/minggu, merugikan negara Rp622… Read More
Poin Penting OJK menegaskan tidak ada perpanjangan waktu, semua UUS asuransi wajib spin off paling… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ungkap sudah ada sejumlah pendaftar calon ADK OJK, terutama… Read More
Poin Penting Pemerintah memastikan dana THR 2026 sebesar Rp55 triliun telah siap dan tinggal menunggu… Read More
Poin Penting IHSG ditutup anjlok 1,37 persen ke 8.280,83 pada 24 Februari 2026, didorong koreksi… Read More