Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026) dipicu oleh kombinasi sentimen global yang terjadi secara bersamaan. Salah satu faktor utama adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi dunia.
“Eskalasi perang di Timur Tengah mendorong harga minyak melonjak di atas USD100 per barel, bahkan sempat melampaui USD110 per barel, sehingga pasar khawatir terhadap gangguan pasokan energi dan kenaikan inflasi global,” ujar Josua saat dihubungi Infobanknews, Senin, 9 Maret 2026.
Baca juga: Perang Iran-AS Picu Bank Global Tunda Perjalanan hingga IPO
Josua menjelaskan kondisi tersebut mendorong investor global menjadikan dolar AS sebagai instrumen paling aman atau safe haven. Selain itu, penguatan dolar AS juga dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa penurunan suku bunga AS atau Fed Fund Rate (FFR) akan tertunda lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kondisi ini meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang berkembang.
“Dalam situasi seperti ini, dolar AS menguat karena dipandang sebagai tempat paling aman bagi investor, sementara harapan penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga makin mundur sehingga tekanan ke mata uang negara berkembang bertambah besar,” jelasnya.
Menurut Josua, tekanan terhadap rupiah di Indonesia menjadi lebih terasa karena sentimen terhadap aset domestik sedang melemah setelah lembaga pemeringkat internasional menurunkan outlook rating Indonesia.
“Tekanan itu menjadi lebih terasa karena sentimen terhadap aset domestik sudah lebih rapuh setelah outlook rating dari lembaga pemeringkat terhadap Indonesia menurun, dan data juga menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp17.015 per dolar AS hari ini,” tambahnya.
Baca juga: Rupiah Dibuka Tembus Rp17.000 per Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Josua menilai Bank Indonesia (BI) perlu menempatkan stabilisasi rupiah sebagai prioritas utama dalam kebijakan moneter saat ini. Ia menilai langkah yang tepat bukan tergesa-gesa menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate, melainkan menahan suku bunga sambil memperkuat kehadiran di pasar valuta asing dan pasar surat berharga negara (SBN) guna meredam gejolak pasar.
“Bank Indonesia sendiri pada Februari 2026 masih mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen dengan fokus pada penguatan stabilisasi rupiah, dan ruang pelonggaran suku bunga menjadi sangat sempit ketika rupiah sedang tertekan,” imbuhnya,
Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, BI Perkuat Intervensi Stabilkan Rupiah
Selain itu, komunikasi kebijakan BI perlu disampaikan secara tegas bahwa cadangan devisa, likuiditas valuta asing domestik, serta koordinasi dengan pemerintah tetap kuat. Hal ini penting karena jika lonjakan harga minyak bertahan lama, dampaknya tidak hanya terhadap nilai tukar, tetapi juga terhadap inflasi, peningkatan biaya impor, dan beban anggaran negara.
“Jadi, kuncinya sekarang adalah meredam gejolak, menjaga kepercayaan pasar, lalu baru membuka ruang pelonggaran ketika tekanan eksternal mulai turun,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Oleh Krisna Wijaya, Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (LPPI) DI era serbakekinian, keberadaan teknologi… Read More
Poin Penting Momentum THR dapat dimanfaatkan untuk mulai investasi emas yang relatif stabil dan mudah… Read More
Poin Penting Askrindo dan Bank BTN menandatangani kerja sama fasilitas kontra bank garansi dengan nilai… Read More
Poin Penting Harga minyak dunia melonjak hingga sekitar USD111 per barel, pertama kali menembus USD100… Read More
Poin Penting Harga emas Antam turun tajam Rp55.000 menjadi Rp3.004.000 per gram pada perdagangan 9… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke Rp17.009 per dolar AS atau turun 0,50 persen dibandingkan… Read More