Moneter dan Fiskal

Rupiah Melemah ke Rp16.707 per Dolar AS, Pasar Tunggu Sinyal The Fed

Poin Penting

  • Rupiah dibuka melemah ke level Rp16.707 per dolar AS, turun 0,19 persen dari penutupan sebelumnya.
  • Pelaku pasar menanti keputusan The Fed, dengan peluang 70 persen pemangkasan suku bunga 25 bps pada Desember 2025.
  • Kebijakan dagang baru China-AS dan kontraksi manufaktur AS turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Selasa, 4 November 2025. Rupiah dibuka di level Rp16.707 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,19 persen dibandingkan penutupan kemarin di Rp16.676 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, pelaku pasar saat ini memperkirakan probabilitas hampir 70 persen bahwa Federal Reserve (the Fed) akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada Desember 2025.

“Menyusul nada hati-hati dari Ketua Powell pada konferensi pers pasca-FOMC. Sementara, dolar AS sebagian besar diperdagangkan menguat terhadap franc Swiss dan dolar Kanada,” kata Andry, Selasa, 4 November 2025.

Baca juga: Awali Pekan, Rupiah Melemah 0,04 Persen di Tengah Antisipasi Data Ekonomi

Kemudian, PMI Manufaktur ISM AS turun menjadi 48,7 pada Oktober 2025 dari 49,1 pada September 2025, di bawah perkiraan pasar sebesar 49,5. Data ini menunjukkan kontraksi selama delapan bulan berturut-turut di sektor manufaktur.

Selain itu, China akan mencabut kontrol ekspor logam tanah jarang dan mengakhiri investigasi terhadap perusahaan semikonduktor AS sebagai bagian dari pakta perdagangan baru.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Beijing akan menerbitkan lisensi ekspor umum untuk logam tanah jarang, galium, germanium, antimon, dan grafit. Kebijakan ini mencabut pembatasan yang diberlakukan sejak April 2025 dan Oktober 2022.

Baca juga: Sinergi DWP Kemenkop dan Kepul Wujudkan Program ‘Sampah Jadi Rupiah’

Sebagai imbalannya, AS akan memperpanjang penangguhan tarif tertentu dan membatalkan rencana pengenaan tarif 100 persen terhadap barang-barang China.

“Tiongkok juga akan menangguhkan pembatasan magnet tanah jarang, sementara AS melonggarkan beberapa pembatasan terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok,” jelasnya.

Pasar Menanti Data Ekonomi AS

Andry menambahkan, pelaku pasar menantikan data sektor swasta utama minggu ini yang diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang pasar tenaga kerja dan perekonomian AS, di tengah penutupan pemerintahan AS yang telah memasuki bulan kedua tanpa tanda-tanda penyelesaian.

Dia pun memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.598 hingga Rp16.678 per dolar AS hari ini

“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp16.598 dan Rp16.678 per dolar AS,” pungkas Andry. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

Dana THR 2026 Siap Dicairkan, Purbaya: Tinggal Tunggu Pengumuman Presiden

Poin Penting Pemerintah memastikan dana THR 2026 sebesar Rp55 triliun telah siap dan tinggal menunggu… Read More

7 mins ago

Bank Mandiri Hadirkan Program Berbagi Takjil di Menara Mandiri Sudirman

Poin Penting Bank Mandiri sediakan berbuka puasa di Menara Mandiri lewat Livin’ by Mandiri. Program… Read More

47 mins ago

Bank OCBC NISP Mau Buyback Saham Rp1 Miliar, Ini Tujuannya

Poin Penting Bank OCBC NISP rencanakan buyback saham Rp1 miliar untuk remunerasi variabel manajemen dan… Read More

1 hour ago

BGN Janji Tindaklanjuti Menu MBG Ramadan yang Melenceng dari Anggaran

Poin Penting BGN siap menindaklanjuti laporan masyarakat terkait polemik menu MBG Ramadan. Anggaran bahan baku MBG ditetapkan Rp8.000–Rp10.000 per… Read More

1 hour ago

Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Januari 2026 Anjlok 14 Persen

Poin Penting Penerimaan kepabeanan dan cukai Januari 2026 tercatat Rp22,6 triliun (6,7 persen pagu APBN),… Read More

1 hour ago

KSPN Kritik Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India untuk Kopdes Merah Putih

Poin Penting Presiden KSPN Ristadi meminta Presiden Prabowo membatalkan rencana impor 105 ribu kendaraan untuk… Read More

1 hour ago