Poin Penting:
- Rupiah melemah ke level Rp17.813 per dolar AS akibat meningkatnya harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
- Ancaman Donald Trump terhadap Iran dan Lebanon memicu protes delegasi Iran serta mengancam kelanjutan perundingan AS-Iran di Swiss.
- Pasar juga mencermati hasil tinjauan MSCI yang berpotensi memengaruhi status Indonesia di kategori emerging markets.
Jakarta – Rupiah melemah pada perdagangan Senin (22/6) pagi di tengah meningkatnya tekanan global yang dipicu lonjakan harga minyak dunia serta memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Nilai tukar rupiah tercatat turun 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp17.813 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.804 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda muncul seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global setelah muncul ancaman Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Trump terkait konflik yang melibatkan Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan kurs rupiah dalam jangka pendek.
Baca juga: BI Tegaskan Transaksi Pariwisata di Indonesia Wajib Gunakan Rupiah
Rupiah Melemah karena Harga Minyak Dunia Kembali Naik
Menurut Rully, rupiah melemah seiring kenaikan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.780-Rp17.830 dipengaruhi oleh faktor global kembali meningkatnya harga minyak dunia seiring ancaman Presiden Trump untuk menyerang Lebanon jika Hizbullah masih terus menyerang Israel, membuat perundingan AS dan Iran yang akan berlangsung di Swiss terancam batal,” ungkapnya di Jakarta, dikutip Antara, Senin (22/6).
Mengutip laporan Sputnik, delegasi Iran meninggalkan lokasi perundingan dengan AS di Swiss pada Minggu (21/6) sebagai bentuk protes atas ancaman yang disampaikan Trump.
Baca juga: Iran Gratiskan Biaya Melintas di Selat Hormuz Selama 60 Hari
Berdasarkan sumber yang dekat dengan tim perunding Iran, langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap ancaman Presiden AS yang menyatakan akan kembali menyerang Iran apabila Teheran gagal membujuk kelompok pro-Iran di Lebanon untuk menghentikan tindakan yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan dialog antara Washington dan Teheran, yang selama ini dipandang sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas geopolitik dan harga energi global.
Perundingan AS-Iran Terancam Batal
Ketegangan semakin meningkat setelah Ketua Tim Negosiasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, meminta AS berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan politik yang berpotensi memperkeruh situasi.
Ia juga menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap merespons segala bentuk ancaman yang ditujukan kepada negaranya.
Baca juga: Biaya Membengkak, Pentagon Butuh 80 Miliar Dolar AS untuk Lawan Iran
Sebelumnya, perundingan teknis antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan dan Qatar berlangsung secara tertutup di kawasan resor Burgenstock, Pegunungan Alpen, Swiss, pada Minggu (21/6). Namun, ancaman terbaru dari Trump dinilai berpotensi menggagalkan proses diplomasi yang sedang berjalan.
Kondisi tersebut turut memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan global dan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rupiah melemah terhadap dolar AS.
Pasar Juga Menanti Keputusan MSCI
Dari sisi domestik, pemerintah disebut tengah menyiapkan berbagai insentif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, perhatian investor saat ini juga tertuju pada hasil peninjauan klasifikasi pasar yang dilakukan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Namun, pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan menjadi perhatian pasar apakah pasar saham Indonesia akan di-down grade atau tetap di emerging markets (EMs),” kata Rully.
Sebelumnya, MSCI telah merilis laporan aksesibilitas pasar saham Indonesia yang masih menempatkan Indonesia dalam kategori emerging markets (EMs) pada 18 Juni. Namun, pasar masih menunggu hasil annual market classification review yang akan diumumkan pada Selasa (23/6) malam waktu AS.
Dalam penilaian tersebut, MSCI tidak hanya mempertimbangkan transparansi informasi pasar, tetapi juga risiko politik dan ekonomi yang memengaruhi iklim investasi di Indonesia.
Baca juga: Review MSCI: Pasar Modal RI Tetap Berstatus Emerging Market
Rully menilai terdapat potensi Indonesia diturunkan ke kategori frontier market, terutama jika kebijakan tata niaga ekspor komoditas strategis melalui satu pintu lembaga pemerintah dianggap meningkatkan risiko tata kelola.
“Kemungkinan akan di-down grade ke frontier (memiliki pasar modal yang kurang matang dan kurang dapat diakses dibandingkan EMs) terkait rencana tata niaga ekspor komoditas strategis lewat satu pintu lembaga pemerintah. Nah, itu tata kelolanya sangat berisiko. Perangkat peraturan dan perundangan belum diperbarui. Contohnya saat ini yang berlaku untuk penanaman modal masih pada koridor undang-undang penanaman modal yang lama,” kata dia.
Dengan kombinasi tekanan global akibat lonjakan harga minyak, ancaman Trump terhadap Iran, serta ketidakpastian terkait hasil peninjauan MSCI, Rupiah melemah dan berpotensi tetap bergerak dalam tekanan pada perdagangan jangka pendek. (*)
Editor: Yulian Saputra


