Moneter dan Fiskal

Rupiah Masih Undervalued, Bos BI Beberkan Penyebabnya

Poin Penting

  • Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pelemahan rupiah dipicu premi risiko global, meski fundamental domestik masih kuat
  • BI intervensi pasar valas dan optimalkan SRBI serta SBN untuk tarik inflow.
  • BI mencatat inflow YtD USD1,6 miliar, bantu stabilitas rupiah.

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan penyebab nilai tukar rupiah masih mengalami undervalued. Pelemahan nilai tukar tersebut terutama dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global

Perry menjelaskan, terdapat dua aspek yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah, yakni faktor fundamental dan teknikal.

Dari sisi fundamental—seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil, dan indikator makro lainnya—rupiah sejatinya berada pada level yang stabil dan berpotensi menguat.

Sementara, dari faktor teknikal seperti faktor premi risiko yang terjadi di global mengakibatkan tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar rupiah.

“Faktor-faktor premi risiko yang khususnya terjadi di global memang kelihatan faktor-faktor ini yang memang menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar,” ungkap Perry dalam Konferensi Pers RDG, Kamis 19 Februari 2026.

Baca juga: Purbaya Sebut Tak Sulit Perkuat Rupiah Jadi Rp15.000 per Dolar AS, Ini Alasannya

Merespons kondisi tersebut, BI meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar rupiah baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri

“Dan tentu saja ini terus kita lakukan bahwa dengan keyakinan ke depan nilai tukarnya akan stabil dan cenderung menguat mengarah kepada fundamental, kami terus akan memastikan menjaga stabilitas nilai tukar dan untuk mendukung stabilitas perekonomian kita,” jelasnya.

Selain intervensi pasar, BI juga mengoptimalkan instrumen moneter untuk menarik aliran modal asing, khususnya melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

Perry menyebut, dalam dua bulan terakhir telah terjadi net flow investasi portofolio asing yang mendukung stabilitas rupiah, dengan tetap menjaga kecukupan likuiditas domestik tercermin dari pertumbuhan uang primer yang tetap double digit.

“Alhamdulillah selama dua bulan ini investasi portfolio asing terus masuk, sudah ada net flow dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap memastikan kecukupan likuiditas di dalam negeri sebagaimana tercermin pada pertumbuhan uang primer yang selalu double digit,” ujarnya.

Sementara, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, upaya lain yang BI dilakukan adalah terus memperdalam pasar melalui perluasan instrumen operasi moneter valuta asing (valas) untuk mata uang yuan Tiongkok.

Destry mencatat, transaksi perdagangan Indonesia dan Tiongkok menggunakan Local Currency Transaction (LCT) terus mengalami peningkatan. Hingga Desember 2025, transaksi LCT dengan China mencapai USD2,7 juta

“Nah ini yang kita terus juga tingkatkan supaya tidak semua tergantung kepada dolar. Dan kalau kita lihat juga suplai-nya makin lama juga makin bertambah, tapi memang tentu masih terus kita butuhkan upaya untuk penambahan suplai dari CNY di pasar valas kita,” ungkapnya.

Semetara untuk menarik inflow, tambah Destry, BI melakukan berbagai upaya untuk membuat instrumen di pasar keuangan Indonesia menjadi lebih menarik.

Berdasarkan data settlement, per 18 Februari 2026, inflow yang masuk di pasar keuangan Indonesia mencapai Rp31 triliun di SRBI dan SBN mencapai sekitar Rp530 miliar.

“Jadi inflow ini terus meningkat sehingga overall year-to-date itu sudah mencapai sekitar USD1,6 miliar untuk inflow. Dan ini sangat membantu sekali untuk stabilitas dari rupiah itu sendiri,” beber Destry. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Pengumuman! Mulai 1 April 2026, Beli BBM Subsidi Dibatasi 50 Liter per Hari

Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More

7 hours ago

Laba Bank Mega Tumbuh 28 Persen pada 2025

Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36… Read More

8 hours ago

Refocusing Anggaran, Pemerintah Klaim Bisa Hemat Rp130 Triliun

Poin Penting Pemerintah melakukan efisiensi dan refocusing anggaran K/L untuk merespons dampak konflik Timur Tengah… Read More

8 hours ago

Penyaluran MBG Dipangkas, Potensi Hemat Bisa Tembus Rp20 Triliun

Poin Penting Pemerintah mengurangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5… Read More

8 hours ago

KB Bank Bidik Pembiayaan Wholesale Tumbuh 70 Persen di 2026, Begini Strateginya

Poin Penting Kontribusi segmen wholesale mencapai sekitar 64 persen dari total portofolio kredit 2025 dan… Read More

9 hours ago

Airlangga Klaim Penerapan WFH Bisa Hemat APBN Rp6,2 Triliun

Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More

9 hours ago