Market Update

Rupiah Diramal Melemah Imbas Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Poin Penting

  • Rupiah menguat tipis di awal perdagangan Senin (5/1/2026), dibuka di level Rp16.722 per dolar AS atau naik 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
  • Sentimen geopolitik menekan aset berisiko, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang berpotensi mendorong pelemahan rupiah
  • Arah kebijakan The Fed dan lonjakan harga emas jadi perhatian pasar, dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2026.

Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan hari ini Senin (5/1/2026). Rupiah dibuka pada level Rp16.722 per dolar Amerika Serikat (AS), atau menguat tipis 0,02 persen dibandingkan penutupan pada Jumat pekan lalu di Rp16.725 per dolar AS.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro yang memicu kekhawatiran geopolitik.

“Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, memicu kekhawatiran geopolitik yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang,” kata Lukman, Senin, 5 Januari 2026.

Baca juga: Kurangi Tekanan Dolar, BI Tambah Instrumen Moneter Berbasis Yuan-Yen

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.650 hingga Rp16.800 per dolar AS hari ini.

“Rupiah diperkirakan berada di kisaran range Rp16.650 hingga Rp16.800 per dolar AS hari ini,” ujar Lukman.

Sementara, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, harga emas dan perak akan naik, akibat investor mencari keamanan logam mulia di tengah meningkatnya risiko geopolitik setelah penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro oleh AS.

“Harga emas spot naik hingga 0,9 persen pada perdagangan awal Senin, naik di atas USD4.370 per ons,” jelas Andry.

Di sisi lain, investor terus mempertimbangkan arah suku bunga Federal Reserve (the Fed) tahun ini, dengan fokus pada rilis data ekonomi mendatang, termasuk data penggajian Desember yang akan dirilis minggu depan, yang dapat memberikan gambaran tentang pasar tenaga kerja dan implikasinya terhadap suku bunga.

Baca juga: Sentimen The Fed Bisa Topang Rupiah, Ini Proyeksi Pergerakannya

“Risalah dari pertemuan FOMC pada Desember 2025 menunjukkan keterbukaan yang semakin besar di antara para pembuat kebijakan untuk melonggarkan kebijakan moneter jika inflasi terus mereda,” tandasnya.

Andry menambahkan, pelaku pasar memperkirakan dua pemotongan suku bunga, dibandingkan dengan proyeksi the Fed yang hanya satu kali pada 2026. Pasar juga mengamati kepemimpinan the Fed berikutnya, dengan Presiden Trump akan menunjuk pengganti Powell awal tahun ini.

“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp16.700 dan Rp16.820 per dolar AS,” pungkas Andry. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Transaksi Bank Emas 33,7 Ton, Laba Pegadaian Naik 42,6 Persen di 2025

Poin Penting Laba Pegadaian 2025 melonjak 42,6% menjadi Rp8,34 triliun, ditopang pertumbuhan aset 47,8% dan… Read More

12 hours ago

IMF Usul RI Naikkan Pajak Karyawan, Begini Kata Menkeu Purbaya

Poin Penting IMF mensimulasikan kenaikan bertahap PPh 21 karyawan untuk mendukung peningkatan investasi publik dan… Read More

12 hours ago

Bursa Calon ADK OJK, Purbaya: Belum Ada Figur yang Kompeten

Poin Penting Sudah ada sejumlah pendaftar calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), namun… Read More

12 hours ago

Jurus Bank Jambi Perkuat Sistem Keamanan Siber

Poin Penting Bank Jambi meningkatkan sistem TI dan pengawasan transaksi sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan… Read More

13 hours ago

Purbaya Pastikan THR ASN, TNI dan Polri Cair di Pekan Pertama Ramadan

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya memastikan THR ASN, TNI, dan Polri cair awal Ramadan 2026… Read More

13 hours ago

IHSG Masih Mampu Ditutup Menguat 1 Persen Lebih ke Level 8.310

Poin Penting IHSG ditutup naik 1,19% ke level 8.310,22 pada perdagangan 18 Februari 2026, dengan… Read More

15 hours ago