Moneter dan Fiskal

Rupiah Diproyeksi Menguat Imbas Kekhawatiran Utang AS yang Melebar

Jakarta – Nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang tengah melemah akibat kekhawatiran terhadap defisit fiskal di negara dengan ekonomi terbesar tersebut.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan, pelemahan dolar AS disebabkan oleh kekhawatiran akan defisit anggaran yang berpotensi meningkatkan utang pemerintah AS.

“Rupiah diperkirakan akan kembali menguat terhadap dolar AS yang masih melemah oleh kekhawatiran defisit yang akan menambahkan utang pemerintah AS yang sangat besar,” kata Lukman, Kamis, 22 Mei 2025.

Baca juga: Ekonomi AS Terancam, Rupiah Berpotensi Menguat Hari Ini

Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.300 hingga Rp16.400 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

“Rupiah akan berada di range Rp16.300-Rp16.400 per dolar AS hari ini,” tandasnya.

Indeks Dolar AS Tertekan, DXY Sentuh Titik Terendah Dua Pekan

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut indeks dolar AS (DXY) mengalami penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut, dan mencapai level 99,7—terendah dalam dua minggu terakhir.

“Karena para pedagang fokus pada pertemuan puncak Menteri Keuangan G7 untuk sinyal apakah pemerintah AS mungkin menoleransi dolar AS yang lebih lemah,” kata Andry.

Lebih lanjut, spekulasi tentang potensi penurunan dolar AS juga meningkat setelah laporan terbaru menyebutkan bahwa pejabat Jepang dan Korea Selatan akan mengadakan pembicaraan mata uang dengan AS. Dalam watu bersamaan, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS pun turut membesar.

Baca juga: Sri Mulyani Targetkan Pendapatan Negara Capai 12,22 Persen pada 2026

Dampak Politik dan Kredit Terhadap Nilai Tukar

Andry juga mencatat bahwa tekanan terhadap dolar AS semakin kuat setelah pernyataan Presiden Trump yang mendesak Partai Republik di Kongres untuk mendukung RUU pemotongan pajak secara luas. Namun, sejauh ini upaya ini belum berhasil meyakinkan para penentang utama yang berpotensi menggagalkan pengesahan undang-undang tersebut.

Selain itu, lembaga pemeringkat Moody’s juga menambah tekanan pada dolar dengan menurunkan peringkat kredit AS pada Jumat lalu, dari peringkat triple-A menjadi Aa1.

“Penurunan peringkat tersebut mengutip kekhawatiran tentang meningkatnya utang pemerintah dan defisit anggaran yang meluas,” ungkapnya.

Baca juga: Ini Sederet Saham yang Paling Diuntungkan usai Pemangkasan Suku Bunga BI

Andry memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak pada kisaran Rp16.360 dan Rp16.442 per dolar AS.

“Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini kemungkinan akan bergerak pada kisaran Rp16.360 dan Rp16.442,” imbuhnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

IHSG Masih Tertekan, OJK Minta Investor Pasar Modal Tetap Tenang

Poin Penting OJK menegaskan fundamental dan prospek jangka panjang pasar modal Indonesia masih sangat baik,… Read More

1 hour ago

Simak! Ini Hasil Pertemuan OJK dan BEI dengan MSCI

Poin Penting OJK dan BEI paparkan 8 aksi reformasi pasar modal ke MSCI, dengan fokus… Read More

2 hours ago

DBS Indonesia Tambah Pendanaan Rp3 Triliun ke Kredivo, Ini Peruntukannya

Poin Penting DBS Indonesia meningkatkan pendanaan channeling ke Kredivo menjadi Rp3 triliun, sejalan dengan pertumbuhan… Read More

3 hours ago

Strategi Adira Finance-Danamon Menuju IIMS 2026

Poin Penting Adira Finance dan Danamon memulai Road to IIMS Jakarta 2026 lewat aktivasi CFD… Read More

3 hours ago

Prabowo: Dunia Nyata Dikuasai Kekuatan, Indonesia Harus Siap dan Mandiri

Poin Penting Prabowo memperingatkan eskalasi konflik global, khususnya yang melibatkan senjata nuklir, berisiko memicu Perang… Read More

3 hours ago

Pasar Lakukan Detox, Waktunya Serok Saham Fundamental

Poin Penting Tekanan pasar terkonsentrasi pada saham terdampak kebijakan MSCI dan percepatan reformasi OJK, sementara… Read More

3 hours ago