Market Update

Rupiah Dibuka Menguat, Tekanan Geopolitik Masih Mengintai

Poin Penting

  • Rupiah dibuka di level Rp16.855 per dolar AS, menguat tipis 0,06 persen dibanding penutupan sebelumnya, namun diperkirakan tetap fluktuatif hari ini
  • Data CPI inti AS yang lebih rendah dari ekspektasi memperkuat spekulasi penurunan suku bunga The Fed sekitar dua kali pada 2026
  • Ketegangan di Iran, ancaman tarif AS, serta isu independensi The Fed menambah ketidakpastian pasar dan menekan pergerakan rupiah.

Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Kamis (15/1/2026). Rupiah dibuka pada level Rp16.855 per dolar Amerika Serikat (AS), atau menguat tipis 0,06 persen dibandingkan penutupan kemarin di Rp16.865 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, data indeks harga konsumen AS di bawah ekspektasi. Consumer Price Index (CPI) inti naik 0,2 persen pada Desember 2025 dan 2,6 persen secara tahunan.

“Memperkuat spekulasi penurunan suku bunga di masa mendatang. Pasar sekarang memperkirakan sekitar dua kali penurunan suku bunga pada tahun 2026,” ujar Ibrahim, Kamis, 15 Januari 2026.

Baca juga: Rupiah Hampir Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Begini Respons BI

Selain itu, kata Ibrahim, risiko geopolitik juga tetap menjadi fokus utama. Iran dilanda protes anti-pemerintah yang semakin intensif yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang, meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah. 

“Kerusuhan tersebut telah memicu peringatan dari Presiden AS Donald Trump, yang memperingatkan kemungkinan tindakan militer dan mengancam akan mengenakan tarif 25 persen pada negara-negara yang berbisnis dengan Iran,” imbuhnya.

Di sisi lain, terdapat kekhawatiran atas independensi bank sentral AS setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal yang melibatkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

“Meskipun perkembangan ini membuat investor gelisah, para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar secara terbuka mendukung Powell, menekankan pentingnya menjaga otonomi the Fed di tengah tekanan politik,” katanya.

Baca juga: Kurangi Tekanan Dolar, BI Tambah Instrumen Moneter Berbasis Yuan-Yen

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran level Rp16.860 hingga Rp16.890 per dolar AS hari ini.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp16.860 hingga Rp16.890 per dolar AS hari ini,” tandas Ibrahim. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

KPK Gelar 2 OTT Sekaligus, Salah Satunya di Kantor Bea Cukai Jakarta

Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Jakarta, terpisah… Read More

3 hours ago

OJK Dorong KUB BPD Tingkatkan Kredit UMKM dan Ekonomi Daerah

Poin Penting OJK menegaskan KUB BPD sebagai strategi utama untuk memperkuat peran BPD dalam pembiayaan… Read More

3 hours ago

Psikologi Konsolidasi Bank

Oleh Awaldi, Pemerhati SDM Bank dan Consulting Director Mercer Indonesia SEJAK akhir tahun kemarin, Otoritas… Read More

3 hours ago

Purbaya Beberkan Penerimaan Pajak Januari 2026 Capai Rp116,2 T, Tumbuh 30,8 Persen

Poin Penting Penerimaan pajak hingga 31 Januari 2026 mencapai Rp116,2 triliun, tumbuh 30,8 persen yoy,… Read More

4 hours ago

Andy Arslan Djunaid Mundur dari Kursi Komut JMA Syariah, Ada Apa?

Poin Penting Mochamad Andy Arslan Djunaid resmi mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama PT Asuransi… Read More

4 hours ago

IHSG Ditutup di Zona Hijau, Saham BBTN, AMMN, dan BRIS Jadi Top Gainers

Poin Penting IHSG menguat tipis 0,30 persen ke level 8.146,71 dengan nilai transaksi Rp25,74 triliun… Read More

4 hours ago