Market Update

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.556 per Dolar AS

Poin Penting

  • Rupiah menguat tipis ke level Rp16.556 per dolar AS pada awal perdagangan Kamis (9/10/2025), naik 0,10 persen dari penutupan sebelumnya.
  • Shutdown pemerintahan AS menahan rilis data ekonomi penting, sementara The Fed diperkirakan memangkas suku bunga 25 bps akhir bulan ini
  • Kekhawatiran inflasi dan pelemahan dolar AS mendorong peralihan ke logam mulia, dengan indeks dolar AS naik ke 98,9 dan ekspektasi inflasi AS meningkat menjadi 3,4 persen.

Jakarta – Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan hari ini, Kamis (9/10/2025). Rupiah dibuka pada level Rp16.556 per dolar Amerika Serikat (AS), atau menguat tipis 0,10 persen dibandingkan penutupan kemarin di Rp16.573 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, AS tetap melakukan penutupan pemerintahan atau shutdown usai Kongres menemui jalan buntu, mencegah rilis data ekonomi utama yang digunakan oleh pasar dan Federal Reserve (The Fed) untuk mengukur perekonomian.

“Akibatnya, indeks MOVE bertahan di level terendah hampir empat tahun meskipun risalah rapat terakhir FOMC mengindikasikan bahwa The Fed harus terus memangkas suku bunga tahun ini untuk mengimbangi semakin rapuhnya pasar tenaga kerja, yang baru-baru ini dibuktikan dengan kontraksi berturut-turut dalam daftar gaji swasta ADP,” kata Andry, Kamis, 9 Oktober 2025.

Baca juga: Menkeu Purbaya Yakin Rupiah Menguat Mulai Pekan Depan

Lebih lanjut, pasar telah sepenuhnya memperhitungkan penurunan suku bunga sebesar 25 bps akhir bulan ini, sementara probabilitas langkah serupa pada Desember berada di sekitar 78 persen.

“Sekitar setengah dari pembuat kebijakan mengantisipasi dua kali pemotongan suku bunga tambahan pada akhir tahun 2025,” katanya.

Selain itu, Andry menyatakan, sebagian anggota komite menyatakan kehati-hatian dalam pelonggaran kebijakan karena inflasi masih tinggi. Kekhawatiran akan inflasi yang berkelanjutan dan pelemahan dolar AS mendorong pasar asing untuk beralih dari aset dolar ke logam mulia, sejalan dengan melemahnya lelang obligasi 10 tahun yang memicu imbal hasil diperdagangkan pada level tertinggi sesi.

Baca juga: Penempatan Rp200 Triliun ke Bank Dinilai Tekan Risiko Pelemahan Rupiah

Indeks dolar AS (DXY) naik ke 98,9, level tertinggi sejak awal Agustus 2025, didukung oleh pelemahan mata uang utama lainnya.

Ekspektasi inflasi konsumen AS untuk tahun mendatang naik menjadi 3,4 persen pada September 2025, tertinggi dalam lima bulan, dibandingkan dengan 3,2 persen pada Agustus 2025.

“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp16.540 dan Rp16.625 per dolar AS,” pungkas Andry. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Purbaya Disebut Temukan Data Uang Jokowi Ribuan Triliun di Bank China, Kemenkeu: Hoaks!

Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa informasi yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa… Read More

8 hours ago

Lewat AKSes KSEI, OJK Dorong Transparansi dan Pengawasan Pasar Modal

Poin Penting OJK mendorong keterbukaan informasi pasar modal melalui sistem pelaporan elektronik AKSes KSEI dan… Read More

10 hours ago

Penjualan Emas BSI Tembus 2,18 Ton, Mayoritas Pembelinya Gen Z dan Milenial

Poin Penting Penjualan emas BSI tembus 2,18 ton hingga Desember 2025, dengan jumlah nasabah bullion… Read More

10 hours ago

Transaksi Syariah Card Melonjak 48 Persen, Ini Penopangnya

Poin Penting Transaksi Syariah Card Bank Mega Syariah melonjak 48% pada Desember 2025 dibandingkan rata-rata… Read More

11 hours ago

Purbaya Siapkan Jurus Baru Berantas Rokok Ilegal, Apa Itu?

Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tengah membahas penambahan satu lapisan cukai rokok untuk memberi… Read More

11 hours ago

Permata Bank Mulai Kembangkan Produk Paylater

Poin Penting Permata Bank mulai mengkaji pengembangan produk BNPL/paylater, seiring kebijakan terbaru regulator, namun belum… Read More

11 hours ago