Poin Penting
- Rupiah dibuka melemah 0,24 persen ke level Rp17.931 per dolar AS pada perdagangan Rabu (22/7/2026), dari penutupan sebelumnya di Rp17.888 per dolar AS
- Pelemahan dipicu tingginya tensi geopolitik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan penguatan indeks dolar AS (DXY)
- Pelemahan diperkirakan terbatas karena pasar menanti hasil RDG BI yang diproyeksi menaikkan BI Rate 25 bps, dengan rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.850–Rp18.000 per dolar AS.
Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Rabu (22/7/2026). Rupiah dibuka pada level Rp17.931 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,24 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu di Rp17.888 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS seiring masih tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Ketidakpastian yang masih berlanjut tersebut menyebabkan kenaikan harga minyak dunia hingga indeks dolar AS (DXY).
Baca juga: Alarm Dunia Usaha Menyala, Pelemahan Rupiah dan Regulasi Jadi Biang Kerok
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah tensi geopolitik yang masih tinggi di Timur Tengah yang menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia dan indeks dolar AS,” kata Lukman, Rabu, 22 Juli 2026.
Meski demikian, lanjut Lukman, potensi pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan relatif terbatas. Pelaku pasar cenderung wait and see menjelang hasil pengumuman Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang diproyeksi akan mengerek suku bunga acuan atau BI Rate.
Baca juga: Libya Gabung Sistem Pembayaran China, Ketergantungan Dolar AS Dikurangi
“Pelemahan diperkirakan terbatas, investor mengantisipasi kenaikan suku bunga 25 basis poin (bps) pada RDG BI sore ini,” ungkapnya.
Berdasarkan sejumlah sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.
“Rupiah akan bergerak di range Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS hari ini,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


