Market Update

Rupiah Dibuka Melemah Imbas Gejolak Geopolitik yang Makin Meningkat

Poin Penting

  • Rupiah melemah di awal perdagangan Selasa (13/1/2026) ke level Rp16.873 per dolar AS, turun 0,11 persen dari posisi sebelumnya Rp16.855 per dolar AS
  • Sentimen geopolitik dan politik global menekan rupiah, terutama meningkatnya gejolak di Iran serta ketidakpastian politik di AS
  • Data tenaga kerja AS yang lebih lemah memicu spekulasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed pada 2026.

Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (13/1/2026). Rupiah dibuka pada level Rp16.873 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,11 persen dibandingkan sebelumya di Rp16.855 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar memantau meningkatnya gejolak di Iran, di mana kerusuhan yang terkait dengan protes anti-pemerintah telah menewaskan lebih dari 500 orang, menurut laporan.

“Ketegangan meningkat setelah Teheran memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump campur tangan atas nama para pengunjuk rasa, meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas,” kata Ibrahim, Selasa 13 Januari 2026.

Baca juga: Kurangi Tekanan Dolar, BI Tambah Instrumen Moneter Berbasis Yuan-Yen

Selain itu, ketidakpastian politik di Washington setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral telah menerima panggilan pengadilan dari dewan juri terkait kesaksiannya di Senat.

“Sebuah langkah yang telah mengguncang pasar dan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang independensi bank sentral,” imbuhnya.

Data ekonomi juga memainkan peran kunci dalam mengangkat harga emas batangan. Pada Jumat, data pemerintah AS menunjukkan peningkatan lapangan kerja non-pertanian sebesar 50.000 pekerjaan pada bulan Desember, meleset dari ekspektasi kenaikan 66.000, sementara tingkat pengangguran sedikit turun menjadi 4,4 persen, di bawah perkiraan 4,5 persen.

Baca juga: Doit dan Rupiah: Jalan Tengah Menuju Redenominasi yang Realistis

“Data pekerjaan yang lebih lemah memperkuat tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja dan memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut pada tahun 2026,” tandasnya.

Berdasarkan sejumlah sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergrak di kisaran Rp16.850 hingga Rp16.890 per dolar AS hari ini.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp16.850 hingga Rp16.890 per dolar AS hari ini,” ujar Ibrahim. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Investor Simak! Ini Sektor yang Diproyeksi Moncer di Tahun Kuda Api

Poin Penting DBS Bank memproyeksikan IHSG menguat ke level 9.800 pada 2026, ditopang fundamental pasar… Read More

2 mins ago

IHSG Rebound, Dibuka Menguat ke Posisi 8.934

Poin Penting IHSG berbalik menguat pada pembukaan perdagangan 13 Januari 2026, naik 0,56 persen ke… Read More

2 hours ago

Geopolitik Memanas, DBS Ungkap 2 Aset Investasi Paling Diuntungkan

Poin Penting Produksi minyak Venezuela rendah, invansi AS tak berdampak besar ke harga energi global.… Read More

3 hours ago

Update Harga Emas Hari Ini: Antam, Galeri24, dan UBS Kompak Meroket

Poin Penting Harga emas di Pegadaian kompak naik pada Selasa, 13 Januari 2026, mencakup produk… Read More

3 hours ago

Ilusi Pertumbuhan Tinggi dan Tantangan Prabowonomics

Oleh Mudrajad Kuncoro, Guru Besar Prodi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan Sekolah Vokasi UGM dan Penulis Buku… Read More

4 hours ago

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah, Ini Katalis Pemicunya

Poin Penting IHSG berpotensi sideways cenderung melemah, dengan peluang menguji area support 8.725–8.800, seiring belum… Read More

4 hours ago