Market Update

Rupiah Dibuka Melemah Buntut Ketegangan Politik di The Fed

Poin Penting

  • Rupiah melemah tipis pada awal perdagangan Senin (19/1/2026) ke level Rp16.891 per dolar AS, turun 0,02 persen dibandingkan penutupan pekan lalu.
  • Sentimen The Fed dan politik AS menekan pasar, ditandai naiknya imbal hasil obligasi AS 10 tahun ke 4,23 persen seiring spekulasi pergantian pimpinan The Fed.
  • Rupiah diperkirakan bergerak terbatas, dengan kisaran Rp16.845–Rp16.930 per dolar AS, sambil menunggu rilis data inflasi PCE dan PDB AS pekan depan.

Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan hari ini, Senin (19/1/2026). Rupiah dibuka pada level Rp16.891 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah tipis 0,02 persen dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di Rp16.887 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa ia mungkin akan mempertahankan penasihat ekonomi Kevin Hassett dalam perannya saat ini daripada menunjuknya sebagai ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya.

“Hal itu meningkatkan ekspektasi bahwa mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh dapat muncul sebagai kandidat terdepan,” kata Andry, Senin, 19 Januari 2026.

Baca juga: Sentimen The Fed Bisa Topang Rupiah, Ini Proyeksi Pergerakannya

Lebih lanjut, imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik menjadi 4,23 persen pada Jumat, level tertinggi dalam lebih dari empat bulan, karena investor bereaksi terhadap gejolak politik yang kembali muncul di sekitar The Fed dan penilaian ulang ekspektasi kebijakan. 

Sementara, laporan tentang penyelidikan kriminal yang melibatkan Ketua Jerome Powell dan pergeseran tajam di pasar prediksi menuju Kevin Warsh sebagai calon pengganti yang potensial menggoyahkan kepercayaan pada independensi The Fed.

“Mendorong investor untuk menuntut kompensasi yang lebih tinggi untuk utang jangka panjang,” tambahnya.

Andry menyebutkan, pergerakan ini diperkuat oleh data AS yang tangguh, dengan produksi industri yang lebih kuat dan pengeluaran ritel yang stabil mendukung pandangan bahwa pertumbuhan tetap cukup kuat untuk mempertahankan lingkungan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Meski demikian, perhatian saat ini beralih ke rilis inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) dan PDB AS minggu depan untuk panduan yang lebih jelas tentang disinflasi dan fungsi reaksi The Fed.

Baca juga: Kurangi Tekanan Dolar, BI Tambah Instrumen Moneter Berbasis Yuan-Yen

“Dengan tidak adanya angka yang lebih rendah kemungkinan akan menjaga imbal hasil jangka panjang tetap lebih tinggi,”imbuhnya.

Andry memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.845 hingga Rp16.930 per dolar AS hari ini.

“Pandangan kami rupiah hari ini akan bergerak di sekitar Rp16.845 dan Rp16.930 per dolar AS,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

Poin Penting BSN menggelar Developer Gathering 2026 di empat kota sebagai langkah strategis menjadikan developer… Read More

3 hours ago

BCA Insurance Luncurkan Aplikasi BIG, Bidik 20 Ribu Pengguna di 2026

Poin Penting BCA Insurance luncurkan BIG (BCA Insurance Guard) sebagai aplikasi mobile untuk mempermudah nasabah… Read More

3 hours ago

Intip Kinerja Bisnis Emas BSI Setelah Berstatus Bullion Bank

Poin Penting Dalam waktu kurang dari setahun sebagai bank emas, total nasabah bisnis emas BSI… Read More

3 hours ago

BCA Digital Perluas Penyaluran Kredit Ritel Lewat bluExtraCash

Poin Penting Sepanjang 2025, BCA Digital menyalurkan kredit Rp8,6 triliun atau tumbuh 38 persen secara… Read More

3 hours ago

Pasar Saham Tertekan, Begini Jurus Investasi Aman di Tengah Koreksi IHSG

Poin Penting IHSG sempat turun tajam hingga 7.654 dan memicu trading halt dua kali akibat… Read More

8 hours ago

Meski Daya Beli Melemah, Amartha Yakin Prospek Pembiayaan UMKM 2026 Tetap Moncer

Poin Penting Amartha optimistis pembiayaan UMKM, khususnya segmen ultra mikro, tetap tumbuh karena kebutuhan modal… Read More

8 hours ago