Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun
Poin Penting
Jakarta – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai Bank Indonesia (BI) masih menggunakan cara konvensional dan cenderung terlalu berhati-hati dalam menjaga nilai tukar rupiah.
Misbakhun menyatakan, BI harus membuka prespektif lebih kuat dalam menentukan berbagai kebijakan moneter yang dijalankan.
“Saya menemukan cara BI menangani nilai tukar masih sangat konvensional dan terlalu hati-hati. Kebijakan-kebijakan moneter kita kalau menurut saya BI ini perlu membuka perspektif lebih kuat,” ujar Misbakhun dalam Outlook Indonesia, Selasa, 7 April 2026.
Baca juga: Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI
Misbakhun mengaku setiap hari dirinya selalu berdisuksi dengan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti terkait dengan nilai tukar rupiah. Ia tak menyangkal bahwa BI melakukan upaya yang sangat serius dalam menjaga nilai tukar rupiah, baik di spot market, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) maupun Non-deliverable forward (NDF) di off-shore market.
Namun, menurut Misbakhun, dengan kondisi yang sudah berubah seperti saat ini, cara bank sentral menangani permasalahan masih tidak berubah.
“Melihat situasi yang sudah berubah sangat seperti ini, cara BI menangani masalahnya juga masih tidak berubah. Permasalahannya makin lama makin kompleks, dia tidak berubah,” tandasnya.
Misbakhun mengaku telah menyampaikan kepada BI agar otoritas moneter berperan menjadi liquidity provider untuk valuta asing (valas).
“Berapa sih kebutuhan valas kita setahun? Misalnya USD300 miliar. Kenapa kita tidak chip in sejak awal melakukan kontrak jumlahnya yang sangat besar, USD300 miliar? “Pak kita tidak punya jalurnya untuk mendapatkan itu, kita hanya punya jalur hedging saja dengan Amerika”, Kenapa kita tidak melakukan high level meeting, misalnya Presiden ketemu dengan Trump, Pak Prabowo, untuk meminta liquidity itu?,” ujarnya.
Dengan begitu, lanjut Misbakhun, ketika pasar membutuhkan valas dalam bentuk spot atau instrumen lainnya, likuiditas sudah tersedia.
Baca juga: Trump Sesumbar Hancurkan Iran dalam Semalam: Mungkin Selasa Malam
Misbakhun menyadari bahwa dirinya memang tidak secara langsung menangani persoalan monitoring, tetapi jika masalah seperti ini terus diselesaikan dengan pendekatan yang sama, maka hasilnya tidak akan optimal.
“Ini yang perlu dilakukan perubahan-perubahan fundamental ini,” tandasnya.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Selasa (7/4/2026) melemah 70 poin atau 0,41 persen ke level Rp17.105 per dolar AS dari perdagangan sebelumnya.
Angka tersebut merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah, setelah krisis moneter 1998 yang berada di level Rp16.800 per dolar AS.(*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More
Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More
Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More
Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,26 persen ke level 6.971,02. Mayoritas sektor melemah, dipimpin sektor… Read More