Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Poin Penting
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak berkaitan dengan kabar masuknya Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dalam bursa calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Pada penutupan perdagangan Senin (19/1/2026), rupiah melemah ke level Rp16.955 per dolar AS atau turun 0,40 persen.
Purbaya menjelaskan, di tengah pelemahan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat ke level all time high 9.133 atau naik 0,64 persen. Menurutnya, penguatan IHSG mencerminkan adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar domestik.
“Kalau indeks naik itu pasti ada flow asing masuk ke situ juga kan? Enggak mungkin domestik sendiri yang bisa mendorong itu ke level yang seperti itu,” ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks DPR RI, Senin, 19 Januari 2026.
Baca juga: Rupiah Hampir Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Begini Respons BI
Purbaya lantas menilai pelemahan rupiah tersebut tidak mencerminkan tekanan terhadap fundamental ekonomi nasional dan optimistis rupiah akan kembali menguat seiring bertambahnya pasokan dolar.
“Jadi tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat juga karena supply dolar akan bertambah,” bebernya.
Purbaya menegaskan tekanan rupiah bukan disebabkan oleh isu masuknya Thomas sebagai calon Deputi Gubernur BI. Menurutnya, kabar tersebut hanya bersifat spekulatif.
“Jadi ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana, wah orang spekulasi dia akan.. independensinya hilang. Saya pikir enggak akan begitu,” tandasnya.
Baca juga: Sepak Terjang Thomas Djiwandono yang Diusulkan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI
Eks bos LPS itu memastikan pemerintah akan terus menjaga fondasi ekonomi domestik agar pertumbuhan ekonomi semakin kuat ke depan.
“Nanti kalau sudah insaf juga langsung menguat lagi rupiah karena fondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan, pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat,” imbuhnya.
Ia menambahkan, strategi penguatan fundamental ekonomi dilakukan dengan menjaga likuiditas sistem keuangan bersama BI dan Kementerian Keuangan, memastikan belanja pemerintah berjalan sesuai target awal tahun, serta memperbaiki iklim investasi melalui Satgas debottlenecking.
“Jadi kita akan perbaiki semuanya. Kita akan perbaiki sisi supply, sisi demand, iklim investasi, kebijakan moneter, kebijakan fiskal, rill sektor semuanya kita jalankan,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting SBN Ritel masih layak dibeli tahun ini karena bersifat stabil, berisiko rendah, dan… Read More
Poin Penting Retirement Goal Calculator dari Bank DBS Indonesia membantu menghitung kebutuhan dana pensiun secara… Read More
Poin Penting Bisnis bancassurance Bank DBS Indonesia tumbuh double digit sepanjang 2025, sejalan dengan pertumbuhan… Read More
Poin Penting Madu Pelawan Bangka tembus pasar internasional berkat keunikan rasa pahit, warna gelap, dan… Read More
Poin Penting Rotasi pejabat Kemenkeu–BI tidak mengganggu independensi BI, selama tidak ada intervensi langsung pemerintah… Read More
Poin Penting Transjakarta akan meningkatkan pengawasan melalui penambahan petugas di layanan dan pemantauan CCTV guna… Read More