Oleh Grace Dewi, Chief Economist PT CRIF Lembaga Informasi Keuangan (CLIK)
SELAIN sebagai salah satu burung yang digemari masyarakat, khususnya pecinta burung, burung kenari menurut sejarah ternyata punya peran penting bagi para penambang. Konon, banyak penambang, seperti penambang batu bara, membawa burung ini ke lorong tambang karena katanya dapat digunakan sebagai alarm hidup bagi para penambang: bila ia mendadak lemas atau berhenti bernyanyi, itu pertanda gas beracun telah hadir – bahwa bahaya telah datang.
Dari praktik itulah kemudian muncul idiom “burung kenari di tambang”, sebagai metafora untuk sinyal dini adanya kerentanan kondisi atau bahaya. Dalam konteks kredit konsumen, Robayanti (Rombongan Bayar Nanti) adalah kenari itu: selama suaranya masih terdengar merdu artinya kondisi aman, tetapi bila sudah ada perubahan-perubahan perilaku bisa menjadi peringatan dini yang harus dibaca dan disikapi.
Robayanti bukan sekadar tren belanja zaman now. Ia mencerminkan rumah tangga kelas menengah yang sedang mengatur ulang prioritas likuiditas. Jika kenari mulai berubah, misalnya ukuran pinjaman mengecil, keterlambatan naik, atau demografi peminjam bergeser, maka regulator, lender, dan merchant perlu membaca kondisi dan mengambil sikap.
Baca juga: Bukan Kriteria Paylater Berizin, OJK Pelototi Praktik Gestun
Menurut data PT CLIK per September 2025, ekosistem BNPL (buy now pay later) terus tumbuh pesat. Jumlah kontrak aktif melonjak dari hanya sekitar 6,06 juta pada Desember 2023 menjadi 46,91 juta pada September 2025.
Portofolio outstanding juga meningkat, dari sekitar Rp14,1 triliun (0,5% PDB Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Triwulan IV 2023) menjadi Rp58,4 triliun, atau sekitar 1,8% dari PDB Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Triwulan III 2025. Dalam kondisi ekonomi yang “menahan napas” – di tengah ancaman PHK dan ketidakpastian geopolitik – BNPL menjadi oksigen tambahan yang menjaga denyut belanja tetap hidup.
Data PT CLIK menunjukkan sekitar 60% kontrak aktif dipegang perempuan. Rata-rata nilai tiketnya lebih kecil: sekitar Rp4,1 juta, dibandingkan laki-laki Rp4,6 juta. Tren ticket size memang agak menurun dalam enam kuartal terakhir, dari di atas Rp5 juta pada akhir 2023 menjadi sekitar Rp4,4 juta-Rp4,6 juta di 2025. Walau artinya kelas menengah tidak berhenti belanja; mereka mengecilkan porsi.
Bagaimana soal risiko? Data keterlambatan bayar (day past due/DPD) PT CLIK memberi sinyal penting. Per September 2025, DPD 1-30 hari tercatat 3,06% untuk perempuan dan 4,10% untuk laki-laki; DPD 181-360 dan >360 hari relatif rendah (DPD 360+ female 0,00%, male 0,02%).
Secara konsisten perempuan menunjukkan kualitas kredit yang lebih baik meski memegang mayoritas kontrak. Eksposur usia muda (<21 tahun) juga perlu diperhatikan walaupun saat ini secara agregat belum ada kemacetan signifikan. Singkatnya, untuk saat ini, kenari berkicau sehat.
Akan tetapi, catatan internasional mengingatkan agar kita tidak menjadi irresponsible optimist. Tinjauan Bank for International Settlements/BIS (Cornelli dkk., 2023) mencatat bahwa secara global, pengguna BNPL memang cenderung lebih muda, berpendidikan lebih rendah, memiliki skor kredit lebih rendah, dan menunjukkan tingkat keterlambatan lebih tinggi ketimbang kredit tradisional. Namun, hingga kini, menurut data PT CLIK, NPL BNPL domestik relatif rendah.
Di lain sisi, yang perlu dihargai, Robayanti di RI mencerminkan inovasi jasa keuangan dan adaptasi ritel. Skema BNPL tumbuh subur di negara dengan penetrasi e-commerce tinggi, dan inflasi meningkat – sebagaimana dicatat BIS. Platform mengambil risiko kredit dari merchant, membiayai pembelian secara instan, dan mengandalkan underwriting berbasis data perilaku: cepat, gesit, nirfriksi.
Namun, tambang kredit kadang bisa mengeluarkan gas dosis beracun. Secara global, banyak platform BNPL menghadapi tekanan profitabilitas akibat biaya operasional tinggi dan kenaikan credit losses. Regulasi pun mulai mengetat. Australia, Inggris, hingga Uni Eropa merevisi kerangka kredit konsumennya. Indonesia tidak boleh menunggu hingga kenari diam dari berkicau.
Baca juga: Utang Paylater Warga RI di Bank Tembus Rp26,20 Triliun per November 2025
Robayanti memegang peran ganda: penopang konsumsi sekaligus indikator kerentanan kelas menengah. Tiket yang mengecil memberi pesan jelas: rumah tangga sedang berhitung. Mereka mencicil kosmetik, tiket, gadget, bahkan pulsa. Bukan selalu karena tak mampu, tetapi demi menjaga likuiditas hingga gaji berikutnya tiba.
Bagi industri keuangan, ini bukan sekadar peluang volume, melainkan ujian kemampuan mengelola risiko dan menjaga kualitas. Pertanyaannya, apakah pertumbuhan BNPL diiringi responsible lenders (pelaporan transparan, manajemen risiko memadai) dan responsible borrowers (peminjam yang paham dan bertanggung jawab)?
Sembari terus mendengarkan burung kenari berkicau, tugas kita semua adalah memastikan bahwa “tambang kredit” tetap aman dari gas beracun. Dengan begitu, Robayanti tetap dapat riang bernyanyi, bukan menjadi korban berikutnya.
Poin Penting Tiffany & Co adalah rumah perhiasan global berusia hampir dua abad yang kini… Read More
Poin Penting Harga emas naik signifikan dalam satu dekade: Dari kisaran Rp500 ribuan (2013) ke… Read More
Poin Penting BNI akan menggelar RUPT Tahun Buku 2025 pada Senin, 9 Maret 2026 di… Read More
Poin Penting BCA, BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN sesuaikan jam operasional saat libur Imlek… Read More
Poin Penting Tren olahraga padel meningkat, tetapi risiko cedera lutut dan pergelangan kaki juga naik,… Read More
Poin Penting Prabowo Subianto menargetkan RoA 7 persen untuk Danantara; Himbara menilai penjelasan lebih tepat… Read More