Perbankan

Risiko Besar, Mitigasi Fraud Wajib Diterapkan Bank

Jakarta – Kejahatan siber di era digital semakin marak terjadi dengan berbagai macam modus salah satunya fraud, untuk itu diperlukan langkah mitigasi yang dijalankan oleh sektor keuangan khususnya perbankan.

Deputi Direktur Pengawasan Bank Pemerintah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pardiyono mengatakan, secara umum mitigasi risiko fraud merupakan bagian yang wajib diterapkan oleh bank mulai dari ketentuan manajemen risiko, penyelenggaraan teknologi informasi, dan layanan perbankan digital.

“Semuanya mewajibkan kepada bank untuk memiliki tata kelola, memiliki kebijakan, memiliki proses yang pada intinya adalah mengidentifikasi, mengukur dan memastikann bahwa risiko tersebut pada level yang bisa diterima,” ujar Pardiyono dalam Talkshow bertema ‘Pengintaian Data di Era Digital, Siapkah Bank?’ yang digelar Infobank, Selasa, 7 Maret 2023.

Pardiyono juga menegaskan, bahwa risiko dari kejahatan siber tidak mungkin nol,  yang mungkin dilakukan adalah menerima risiko yang bisa diterima oleh perbankan. Sehingga, jika tingkat atau level risikonya lebih tinggi dari yang bisa diterima, maka perbankan harus melakukan berbagai tindakan.

“Misalnya perbankan menyediakan layanan mobile banking, yang risikonya bisa di serang dari sisi banknya, jaringan, perangkat atau nasabah. Risiko-risiko yang mungkin terjadi harus diindetifikasi, diukur, kemudian apakah risiko tersebut sudah risk appetite,” jelasnya.

Selain itu, OJK sebagai otoritas pengawas juga melakukan pengawasan terhadap bagaimana perbankan dalam memperlakukan risiko-risiko tersebut. Jika, risikonya masih tinggi maka OJK akan memberikan peringatan atau surat pembinaan agar meningatkan pengendalian risiko.

Sementara itu, dari sisi pelaku industri perbankan, M. Riza Achrulah IT Security Head Allobank mengatakan, dalam memitigasi fraud adalah suatu kontrol yang diterapkan oleh Allobank setelah dilakukan risk assessment. Mulai dari mengindentifikasi potensi fraud dari layanan yang disediakan Allobank, seperti nasabah, dan proses pekerjaan di dalam bank itu sendiri.

“Kita identifikasi kemudian kita terapkan control yang tepat disana kemudian kita lakukan review atau kajian secara berkala dan kita lakukan proses improvement secara berkelanjutan, secara sepesifik kita akan melihat apakah ada teknologi yang bisa kita terapkan disana apakah berupa behavior analytic atau AI arahnya kesana,” jelas Riza. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 jadi 4,7 Persen

Poin Penting World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 4,7 persen pada 2026, turun… Read More

4 mins ago

Ahli Usul RUU Perampasan Aset Difokuskan Jerat Pejabat Publik

Poin Penting: Para pakar meminta RUU Perampasan Aset dibatasi untuk kejahatan serius dan fokus pada… Read More

28 mins ago

Bank Amar Bidik UMKM untuk Perkuat Ekonomi Digital

Poin Penting Bank Amar fokus pada UMKM untuk memperluas akses pembiayaan digital dan mendorong pertumbuhan… Read More

56 mins ago

IHSG Sesi I Ditutup Melemah ke 7.268, Sektor Industri Pimpin Pelemahan

Poin Penting IHSG melemah tipis 0,15% ke level 7.268,03 pada penutupan sesi I perdagangan (9/4).… Read More

2 hours ago

Prabowo: Biaya Haji 2026 Turun Rp2 Juta Meski Harga Avtur Naik

Poin Penting Pemerintah memastikan biaya haji 2026 turun Rp2 juta meski harga avtur naik. Kenaikan… Read More

3 hours ago

Menimbang Kriteria Calon Dirut BEI

Oleh Paul Sutaryono PADA 25 Maret 2026, Mahkamah Agung telah resmi melantik Friderica Widyasari Dewi… Read More

3 hours ago