Laksana Budiwiyono, Country Manager Trend Micro Indonesia. (Foto: Mohammad Adrianto Sukarso)
Jakarta – Perusahaan perangkat lunak asal Jepang, Trend Micro, merilis laporan bertajuk “Trend Micro Cyber Risk Report 2024”. Laporan ini salah satunya menjelaskan rata-rata tingkat keamanan siber dari berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.
Penilaian yang Trend Micro lakukan terbagi menjadi 3 level. Angka 0-30 menunjukkan bahwa risiko sebuah wilayah terkena serangan siber itu rendah. Sementara, 31-69 sudah masuk ke level medium, dan di atas itu tandanya sudah mencapai level berbahaya.
Laksana Budiwiyono, Country Manager Trend Micro Indonesia, menjelaskan bahwa Indonesia mendapat nilai 44 sebagai negara yang berpotensi terkena risiko serangan siber. Angka ini sedikit di atas rata-rata nilai dari berbagai wilayah, yakni sebesar 43,4, dan rata-rata negara Asia Tenggara (ASEAN) yang nilainya 43,2.
“Kalau (nilai dari) Asia Tenggara itu 43,2. Indonesia sendiri 44. Kalau kita lihat average-nya. Jadi kita sedikit lebih tinggi dari rata-rata Asia Tenggara,” papar Laksana pada Rabu, 30 Oktober 2024.
Baca juga: BSSN: Keamanan Siber Perbankan dalam Implementasi Terkelola
Sementara, di wilayah-wilayah lain, Amerika memperoleh nilai sebesar 44,6. Disusul Eropa dengan nilai 42,9, dan wilayah AMEA, mencakup Afrika, Timur Tengah, dan Asia yang mendapat nilai 42,7. Jepang, selaku negara pendiri Trend Micro, memperoleh skor 38,2.
Selain itu, Laksana juga menyorot waktu untuk memproteksi (MTTP) suatu serangan siber di Indonesia yang terhitung terlalu lama. Disebutkan Indonesia memerlukan waktu 45 hari untuk bisa menangani serangan siber.
Padahal, rata-rata MTTP di berbagai wilayah “hanya” sekitar 29,3 hari. Eropa disebut perlu waktu 26,5 hari untuk recovery. Sementara, masing-masing dari wilayah AMEA dan Amerika memakan waktu 28,3 hari dan 32,8 hari. Dan Jepang menghabiskan waktu 36,4 hari.
Baca juga: Ngeri! Potensi Kerugian Serangan Siber Bisa Tembus USD13,82 Triliun di 2028
Di wilayah ASEAN, MTTP-nya juga berkisar 30,5 hari. Tandanya Indonesia memerlukan 1,5 kali waktu lebih lama dibandingkan mayoritas negara di Asia Tenggara. “Indonesia di atas rata-rata. Lama recovery-nya,” tutur Laksana. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More