BRI Dukung Proyek Strategis Nasional Tol Desari
Jakarta — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) berencana untuk menerbitkan surat utang atau obligasi pada semester II-2019 sebesar Rp5 triliun pada Oktober mendatang.
Rencana penerbitan obligasi ini merupakan tahap pertama dari rencana Penawaran Umum Berlanjutan (PUB) I Bank BRI. Adapun penerbitan PUB senilai Rp 20 triliun itu akan dilakukan dalam jangka waktu tiga tahun.
Direktur Keuangan BRI, Haru Koesmahargyo mengatakan, bahwa pada semester II l-2019 ini, perseroan akan menerbitkan obligasi sebesar 5 triliun. “Ancer-ancer waktu itu menerbitkan sekitar Rp6 sampai Rp7 triliun setahun. Tapi, semester II l-2019 ini mungkin kita pasang Rp 5 triliun,” kata Haru di Jakarta, belum lama ini.
Haru menambahkan, bahwa penerbitan obligasi tersebut masih harus melalui proses panjang. Saat ini perseroan masih menunggu pemeringkatan (rating) dari Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).
“Kemudian kami juga masih perlu menunggu nanti izin OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang kurang lebih (terbit) pada September 2019. Jadi mudah-mudahan bisa issue di bulan Oktober 2019,” jelas Haru.
Sebelumnya, Haru telah menyebut bahwa nilai obligasi yang akan diterbitkan belum bersifat tetap dan masih bisa berubah. Hal ini dikarenakan perlunya penyesuaian dana yang dibutuhkan.
Ke depan, obligasi tersebut akan digunakan untuk merealisasikan target bisnis yang sudah tercantum dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Beberapa rencana ini di antaranya adalah untuk mencukupi pendanaan agar likuiditas tetap terjaga. (*) Evan
Poin Penting Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Februari 2026 sebesar 0,68 persen (mtm), dengan IHK… Read More
Poin Penting Nadiem Makarim mendirikan Gojek (2010) hingga merger dengan Tokopedia membentuk GoTo Group pada… Read More
Poin Penting Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengembalikan mobil dinas baru senilai Rp8,49 miliar yang dibeli… Read More
Poin Penting Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,65 persen ke 8.016,83; 671 saham melemah,… Read More
Poin Penting Inflasi Februari 2026 terkendali di 0,68 persen (mtm) dan 4,76 persen (yoy), masih… Read More
Poin Penting Badan Pusat Statistik menyatakan dampak konflik AS-Israel dan Iran terhadap perdagangan Indonesia masih… Read More