Moneter dan Fiskal

RI Dinilai Sulit Mencapai Visi Indonesia Emas 2045, Ini Alasannya

Jakarta – Pemerintah mengusung visi Indonesia Emas 2045, menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari lima negara terbesar ekonomi dunia. Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah menilai, Indonesia memiliki potensi menjadi negara maju, namun bila dilihat berdasarkan angka pertumbuhan ekonomi selama ini, Indonesia masih mengabaikan berbagai tantangan kedepannya.

“Dilihat dari potensi kita punya semua angka-angka ekonomi kita sudah menunjukkan angka yang sangat baik. Tapi kita harus melihat juga bagaimana negara-negara maju mencapai posisinya itu melewati satu fase panjang dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi,” ujar Piter di Jakarta, Selasa, 21 Maret 2023.

Ia pun mencontohkan, beberapa negara maju seperti di China yang mengalami pertumbuhan ekonomi diatas 12% selama 10 tahun. Begitu pun dengan Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Sedangkan Indonesia pernah mengalami pertumbuhan ekonomi 8% hingga 10% hanya satu tahun. 

“Sekarang pertanyaannya Indonesia apakah pernah mengalami pertumbuhan ekonomi di atas 5% selama 5 tahun berturut-turut? Tidak pernah. Kita hanya bisa tumbuh secara spike tumbuh 10% dan 8% selama satu tahun kemudian turun lagi. Saat ini peetumbuhan ekonomi kita tidak pernah bisa mencapai 6%,” jelasnya.

Untuk itu, dengan pertumbuhan ekonomi yang demikian, pihaknya meperkirakan Indonesia akan menghadapi masalah-masalah besar kedepannya. Pertama, Indonesia harus mengalami pertumbuhan ekonomi di atas 8% selama periode 10 tahun untuk mencapai negara maju dengan pendapatan per kapita sebesar US$12.000 pertaun. Sementara, Indonesia masih dikisaran US$4.000 per tahun.

“Sangat sulit kita untuk mencapai posisi pendapatan per kapita US$12.000 hanya dengan pertumbuhan ekonomi yang sama, kita perhitungkan juga PDB naik, jumlah penduduk juga naik, kita butuh lompatan pertumbuhan ekonomi,” ungkap Piter.

Kedua, Indonesia akan menghadapi bonus demografi dibandingkan dengan negara-negara maju. Di satu sisi, ini akan menjadi tantangan bagi negara untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi ledakan demografi kedepan.

“Kalau kita tidak bisa menyedeiakn lapangan kerja bagi mereka, bonus demografi bisa menjadi bencana demografi. Dengan rata-rata 5% setahun kita tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi angkatan kerja kita yang sekitar 4 juta pertahun,” katanya.

Sementara, dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5% akan menyerap angkatan kerja hanya sebesar 1,25 juta. Artinya hampir 3 juta angkatan kerja tidak mendapatkan lapangan kerja formal.

“Selama ini kita serap di sektor informal tapi berapa lama sektor informal kita menyerapnya, ini bicara 2045 bicara kumulasi, jangankan 2045 tapi 2030 -2035 kita akan menghadapi permasalah sosial dan pengangguran,” imbuh Piter.

Sehingga, diharapkan Indonesia harus bisa memmberdayakan dan mengoptimalkan sumber daya manusia untuk mencapai lompatan pertumbuhan ekonomi agar bisa mencapai visi Indonesia Emas 2045. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Irawati

Recent Posts

ACA Bayar Klaim Kerusakan Turbin PLN Batam Senilai USD 11,04 Juta

Poin Penting PT Asuransi Central Asia (ACA) telah membayarkan klaim sebesar USD 11,04 juta atas… Read More

2 hours ago

ACA Bayar Klaim Kerusakan Turbin PLN Batam

PT Asuransi Central Asia (ACA) membayarkan klaim senilai USD 11,04 juta kepada PT PLN Batam,… Read More

3 hours ago

Bank Mandiri Catat Fundamental Solid di 2025, Perkuat Intermediasi dan Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah

Bank Mandiri secara konsolidasi berhasil mencatatkan kinerja solid di sepanjang 2025 tercermin dari penyaluran kredit… Read More

3 hours ago

CIMB Niaga Bidik Transaksi Rp45 Miliar di Cathay Travel Fair 2026

Jakarta – PT Bank CIMB Niaga Tbk membidik nilai transaksi hingga Rp45 miliar dalam penyelenggaraan Cathay… Read More

3 hours ago

Moody’s Turunkan Outlook RI, Purbaya: Hanya Jangka Pendek

Poin Penting Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s hanya bersifat… Read More

3 hours ago

Gaya Hidup Menggeser Risiko Penyakit ke Usia Muda? Simak Persiapan Menghadapi Risikonya

Poin Penting WHO mencatat 74 persen kematian global disebabkan penyakit tidak menular, dengan 17 juta… Read More

3 hours ago