RI dan Tiongkok Implementasi Transaksi Bilateral Dengan Mata Uang Lokal

RI dan Tiongkok Implementasi Transaksi Bilateral Dengan Mata Uang Lokal

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBC) pada hari ini (6/9) memulai implementasi kerja sama penyelesaian transaksi bilateral dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) antara Indonesia dan Tiongkok. Kerangka kerja sama dimaksud antara lain, penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung (direct quotation) dan relaksasi regulasi tertentu dalam transaksi valuta asing antara mata uang Rupiah dan Yuan.

Sebelumnya, kerangka kerja sama ini disusun berdasarkan Nota Kesepahaman yang telah disepakati dan ditandatangani oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, dan Gubernur PBC, Yi Gang, pada tanggal 30 September 2020. Selain dengan Tiongkok, saat ini BI juga telah memiliki kerangka kerja sama LCS dengan beberapa negara mitra lainnya, yaitu Jepang, Malaysia, dan Thailand.

“Implementasi kerja sama ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan oleh Bank Indonesia untuk mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas dalam penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung dengan berbagai negara mitra. Perluasan penggunaan LCS diharapkan dapat mendukung stabilitas Rupiah melalui dampaknya terhadap pengurangan ketergantungan pada mata uang tertentu di pasar valuta asing domestik,” jelas Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi, Erwin Haryono.

Penggunaan LCS memang memberikan banyak manfaat langsung kepada pelaku usaha. Manfaat-manfaat tersebut antara lain: (i) biaya konversi transaksi dalam valuta asing yang lebih efisien, (ii) tersedianya alternatif pembiayaan perdagangan dan investasi langsung dalam mata uang lokal, (iii) tersedianya alternatif instrumen lindung nilai dalam mata uang lokal, dan (iv) diversifikasi eksposur mata uang yang digunakan dalam penyelesaian transaksi luar negeri.

Untuk mendukung operasionalisasi kerangka LCS menggunakan Rupiah dan Yuan ini, BI dan PBC telah menunjuk beberapa bank di negara masing-masing untuk berperan sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).

Bank-bank yang ditunjuk sebagai ACCD adalah bank yang dipandang telah memiliki kemampuan untuk memfasilitasi transaksi Rupiah dan Yuan sesuai kerangka kerja sama LCS yang disepakati, yaitu memiliki tingkat ketahanan dan kesehatan yang baik, berpengalaman dalam memfasilitasi transaksi perdagangan/ investasi dan memiliki kapasitas dalam menyediakan berbagai jasa keuangan, serta memiliki hubungan kerja sama yang baik dengan bank di negara mitra.

Adapun bank-bank yang ditetapkan sebagai ACCD di Indonesia adalah:

  1. PT. Bank Central Asia, Tbk
  2. Bank of China (Hongkong), Ltd
  3. PT. Bank China Construction Bank Indonesia, Tbk
  4. PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk
  5. PT. Bank ICBC Indonesia
  6. PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk
  7. PT. Bank Maybank Indonesia, Tbk
  8. PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk
  9. PT. Bank OCBC NISP, Tbk
  10. PT. Bank Permata, Tbk
  11. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk
  12. PT. Bank UOB Indonesia

Sementara itu, berikut daftar bank yang ditetapkan sebagai ACCD di Tiongkok:

  1. Agriculture Bank of China
  2. Bank of China
  3. Bank of Ningbo
  4. Bank Mandiri Shanghai Branch
  5. China Construction Bank
  6. Industrial and Commercial Bank of China
  7. Maybank Shanghai Branch
  8. United Overseas Bank (China) Limited

 

Editor: Rezkiana Np

 

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Pilihan

Info Grafis

Silahkan Login 

%d bloggers like this: