Nasional

RI Alami Deflasi 5 Bulan Beruntun, BPS Ungkap Biang Keroknya

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) mengalami deflasi sebesar 0,12 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada September 2024. Deflasi ini menjadi kali kelima secara bulanan sejak Mei 2024.

“Terjadi deflasi di September 2024 yang lebih dalam dibandingkan Agustus 2024 dan ini merupakan deflasi kelima di 2024 secara bulanan,” kata Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, dikutip Selasa, 1 Oktober 2024.

Ia menjelaskan, penyumbang deflasi utama pada bulan September berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,59 persen. Dalam hal ini, memberikan andil deflasi sebesar 0,17 persen.

Baca juga : Deflasi 4 Bulan Beruntun, Ini Dampaknya ke Sektor Perbankan

Sementara itu, komoditas yang memberi andil inflasi adalah ikan segar dan kopi bubuk dengan inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen, biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi, tarif angkutan udara dan juga cigarette kretek mesin (SKM) yang memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01%.

Adapun, deflasi sebesar 0,12 persen ini ditopang oleh kompenen harga bergejolak yang mengalami deflasi sebesar 1,34 persen. Komponen ini memberi andil deflasi sebesar 0,21 persen.

Sedangkan inflasi secara month to month menurut komponen deflasi pada September 2024 sebesar 0,12% didorong oleh deflasi komponen bergejolak dan harga diatur pemerintah.

Baca juga : RI Catat Deflasi Keempat Kalinya di 2024, BPS: Bukan Fenomena Baru

Komponen harga bergejolak mengalami deflasi sebesar 1,34 persen, memberikan andil deflasi sebesar 0,21 persen. Adapun komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, daging ayam ras dan tomat.

Ia menambahkan, pada September 2024 komponen inti masih mengalami inflasi sebesar 0,16 persen secara bulanan dan memberikan andil sebesar 0,10 persen.

“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti adalah kopi bubuk dan biaya akademi atau perguruan tinggi,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Bank BPD Bali Sudah Setor Dividen Rp826 Miliar ke Pemda

Poin Penting Bank BPD Bali mendistribusikan 75 persen laba atau Rp826 miliar dari total keuntungan… Read More

16 hours ago

Rekomendasi 5 Aplikasi Nabung Emas yang Aman dan Praktis

Poin Penting Kini menabung emas bisa dilakukan di aplikasi emas yang menawarkan transaksi yang aman… Read More

16 hours ago

Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Begini Respons Pemerintah

Poin Penting Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif resiprokal Donald Trump, pemerintah Indonesia mencermati dampaknya… Read More

21 hours ago

Investasi Reksa Dana BNI AM Kini Bisa Dibeli di Kantor Cabang KB Bank

Poin Penting PT Bank KB Indonesia Tbk menggandeng PT BNI Asset Management memasarkan reksa dana… Read More

21 hours ago

Kadin Gandeng US-ABC Perluas Ekspor Alas Kaki ke AS

Poin Penting Kamar Dagang dan Industri Indonesia teken MoA dengan US-ASEAN Business Council untuk perluas… Read More

1 day ago

Alasan Mahkamah Agung AS “Jegal” Kebijakan Tarif Trump

Poin Penting Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif resiprokal global Donald Trump karena dinilai melanggar… Read More

1 day ago