Perbankan

Restrukturisasi Berakhir, Ini Sederet Tantangan Hantui Perbankan RI

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut masih terdapat tantangan yang dihadapi oleh sektor perbankan. Terutama setelah berakhirnya masa restrukturisasi kebijakan stimulus Covid-19 pada 31 Maret 2024 yang lalu.

Direktur Pengembangan Perbankan OJK, Mohamad Miftah, mengatakan bahwa salah satu tantangan tersebut adalah sektor ekonomi yang masih perlu diberikan dukungan pada masa pemulihan saat ini, meskipun pandemi Covid-19 telah usai.

“Kemudian adanya VUCA dan spillover uncertainty, di situ ada tensi geopolitik, kemudian lonjakan inflasi dan era suku bunga higher for longer, adanya potensi perlambatan ekonomi global atau stagflasi,” ucap Miftah dalam Webinar OJK di Jakarta, 22 Mei 2024.

Baca juga: Tok! BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 6,25 Persen

Selain itu, kata Miftah, sektor perbankan Indonesia juga masih menghadapi tantangan perkembangan digitalisasi yang sangat masif, sehingga diperlukan kesiapan industri dalam mengedepankan prinsip keseimbangan antara inovasi digital dan kehati-hatian.

“Terakhir adalah isu yang relatif baru, isu perubahan iklim yang saat ini mengemuka, tentu perlu menjadi perhatian bagi sektor perbankan dalam integrasi risiko iklim terhadap manajemen risiko dan strategi bisnis perbankan untuk menjaga ketahanan sektor perbankan menghadapi risiko perubahan iklim,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, sektor perbankan juga masih dihadapi oleh isu struktural, salah satunya tuntutan penguatan struktur industri agar lebih efisien dan berdaya saing yang dapat dilakukan melalui pemenuhan modal inti minimum dan penguatan manajemen risiko.

Lalu, diperlukan adanya akselerasi transformasi digital di tengah ancamam risiko siber, kesiapan infrastruktur yang mendasar, serta kolaboratif dan konektivitas bank.

Baca juga: Kebijakan Moneter BI Manjur, Nilai Tukar Rupiah Menguat 1,66 Persen per Mei 2024

“Kemudian adanya dorongan peningkatan peran sektor perbankan agar lebih kontributif dalam pembangunan berkelanjutan dan ini memang harus menjadi perhatian kita bersama bagi industri perbankan,” ujar Miftah.

Adapun, selama empat tahun implementasi pemanfaatan stimulus restrukturisasi Covid-19 dilakukan telah mencapai Rp830,2 triliun yang diberikan kepada 6,68 juta debitur pada Oktober 2020, di mana sebanyak 75 persen dari total debitur adalah segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (*)

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Tukar Uang Lebaran 2026 Dibuka Lebih Awal, Ini Jadwal Terbarunya

Poin Penting Bank Indonesia (BI) menambah kuota dan memajukan jadwal pemesanan tukar uang tahap kedua… Read More

9 hours ago

KAI Daop 6 Pastikan Diskon Tiket KA Lebaran 30 Persen Masih Tersedia, Ini Cara Pesannya

Poin Penting PT Kereta Api Indonesia Daop 6 Yogyakarta memastikan diskon 30% tiket KA Lebaran… Read More

9 hours ago

Lahan Terbatas, Kemenkop Ubah Desain Pembangunan Kopdes Merah Putih

Poin Penting Menkop menargetkan percepatan pembangunan 30.336 Kopdes Merah Putih untuk memperkuat ekonomi desa dan… Read More

13 hours ago

Dana Nasabah Dibobol, Bank Jambi Pastikan Ganti Kerugian Nasabah

Poin Penting Bank Jambi menjamin mengganti penuh dana nasabah yang hilang jika audit membuktikan ada… Read More

13 hours ago

Rekening Ditutup, Donald Trump Gugat JPMorgan 5 Miliar Dolar AS

Poin Penting JPMorgan Chase menutup rekening Donald Trump dan bisnisnya pada Februari 2021, sekitar sebulan… Read More

13 hours ago

Di FGD soal Kasus Sritex, Ekonom Ini Sebut Risiko Bisnis Tak Seharusnya Dipidanakan

Poin Penting Dalam FGD yang digelar Nusantara Impact Center, Wijayanto Samirin menegaskan risiko bisnis tidak… Read More

14 hours ago