Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara terkait anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan evaluasi indeks saham Indonesia.
Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK, mengatakan pihaknya bersama dengan self-regulatory organization (SRO) akan terus mengkaji apakah proposal yang diajukan pasar saham dalam negeri sudah mengikuti ketentuan MSCI.
“(Dan) yang kami ingin sampaikan pada kesempatan ini adalah, apapun respons dari MSCI terhadap hal tadi, kami akan memastikan penyesuaian lebih lanjut jika diperlukan, akan dilaksanakan sampai final,” terangnya pada Kamis, 29 Januari 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.
Baca juga: Trading Halt Dua Kali, Purbaya: Nggak Usah Takut, IHSG Bakal ke 10.000
Perlu diketahui, MSCI meminta BEI untuk melengkapi data keterbukaan terhadap kepemilikan saham milik investor ritel. Dalam hal ini, MSCI meminta informasi soal pemegang saham di bawah 5 persen, kategori investor, dan struktur kepemilikan.
“Jadi, kami akan melakukan dan memastikan bahwa kita semua memenuhi sesuai dengan best practice internasional,” tambah Mahendra.
Lebih lanjut, Mahendra mengatakan pihaknya dan SRO akan segera menerbitkan aturan untuk free float minimal 15 persen. Aturan ini disebut akan dilakukan dalam waktu dekat dan prosesnya akan diiringi dengan transparansi yang baik.
Baca juga: Imbas MSCI, Outflow Investor Asing Tembus Rp6,12 Triliun
Mahendra berjanji akan menyelesaikan aturan tersebut sebelum tenggat waktu Mei 2026. Dengan begitu, diharapkan langkah tersebut bisa meningkatkan tata kelola hingga transparansi lebih baik lagi, sehingga memenuhi standar level internasional.
“Proses dan langkah-langkah reformasi yang dilakukan untuk penyempurnaan terhadap pengaturan dan pelaksanaan yang berlaku saat ini, akan terus dilakukan. Sehingga, kesepahaman terhadap apa yang dimaksud dan memenuhi standar setara dengan internasional dapat dicapai dengan baik,” tutupnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More
Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36… Read More
Poin Penting Pemerintah melakukan efisiensi dan refocusing anggaran K/L untuk merespons dampak konflik Timur Tengah… Read More
Poin Penting Pemerintah mengurangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5… Read More
Poin Penting Kontribusi segmen wholesale mencapai sekitar 64 persen dari total portofolio kredit 2025 dan… Read More
Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More