HUT ke-10 AFTECH. (Foto: Mohammad Adrianto Sukarso)
Poin Penting
Jakarta – Genap satu dekade berdiri, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menjadikan perayaan hari jadinya sebagai titik refleksi sekaligus konsolidasi arah baru industri teknologi keuangan nasional.
Sebagai asosiasi resmi penyelenggara Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) yang ditunjuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), AFTECH sejak awal dirancang menjadi payung bagi berbagai model bisnis fintech. Organisasi ini menjadi simpul kolaborasi antara pelaku industri, regulator, dan masyarakat dalam memperluas inklusi keuangan nasional.
Didirikan oleh enam founder, 11 Februari 2016, AFTECH tumbuh bersama ekosistem digital Indonesia. Sepanjang 10 tahun terakhir, asosiasi ini mendorong literasi keuangan inklusif, penguatan keamanan digital, serta perluasan dampak ekonomi fintech bagi sektor riil.
Baca juga: Jurus Baru Easycash, AFTECH, dan IARFC Atasi Kesenjangan Literasi Keuangan Generasi Muda
Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa usia 10 tahun bukan sekadar perayaan, melainkan pengingat atas tanggung jawab industri terhadap publik.
“Sepuluh tahun AFTECH bukan hanya tentang perjalanan industri, tetapi tentang tanggung jawab kolektif. Fintech harus dimanfaatkan secara benar, aman, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM, petani, nelayan, dan pekerja sektor riil,” ujar Pandu, dikutip Sabtu, 14 Februari 2026.
Selama 10 tahun terakhir, fintech jadi bagian penting transformasi ekonomi digital Indonesia. Namun, Annual Members Survey (AMS) AFTECH 2024–2025 menunjukkan beberapa tantangan yang dihadapi pelaku industri.
Diawali dengan terkonsentrasinya 73,77 persen pengguna fintech di Jabodetabek. Ini membuat masyarakat berpenghasilan Rp0–5 juta masih susah akses keuangan digital. Isu keamanan juga menjadi sorotan.
Baca juga: AFTECH dan BSSN Berkolaborasi Perkuat Standar Keamanan Fintech
Disebutkan bahwa 27,12 persen fintech terkena serangan phishing. 82,98 persen anggota AFTECH menyebut bahwa fraud eksternal risiko utama. Terakhir, meskipun 43,44 persen perusahaan mengaku memiliki program literasi, 59,02 persen industri bilang literasi keuangan rendah menjadi tantangan inklusi besar.
Dengan demikian, Pandu menyebut, HUT ke-10 AFTECH menjadi momentum penting untuk menggeser fokus industri dari sekadar pertumbuhan menuju kualitas, tata kelola, dan dampak.
“Jika kita ingin berkontribusi pada target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen, maka inovasi keuangan digital 1 dekade ke depan harus hadir sebagai enabler yang efisien dan efektif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan membawa solusi, bukan menjadi sumber masalah,” imbuh Pandu.
Baca juga: DPR Setujui Calon Anggota Ombudsman Periode 2026–2031, Ini Daftarnya
Menutup pernyataannya, Pandu menegaskan bahwa satu dekade AFTECH adalah awal dari fase baru industri fintech Indonesia. Ia menyebut, AFTECH akan terus menjadi penghubung antara inovasi dan kepercayaan.
“Dengan literasi yang kuat, keamanan yang terjaga, dan kolaborasi lintas sektor, fintech Indonesia bisa tumbuh sehat dan memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi bangsa,” pungkasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Pegadaian kelola emas fisik 141 ton dari deposito, modal kerja, bulion trading, dan… Read More
Poin Penting Penyaluran Penugasan Khusus Ekspor (PKE) LPEI mencapai Rp13,5 triliun sepanjang 2025, naik 85… Read More
Poin Penting Tabungan emas Pegadaian dijamin 1 banding 1 dengan emas fisik yang tersimpan di… Read More
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: Irawati) Read More
Poin Penting APBN Februari 2026 defisit Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen dari PDB, dengan… Read More
Poin Penting Tugu Insurance meluncurkan asuransi mikro t mudik (konvensional dan syariah) untuk memberikan perlindungan… Read More