Ratu Maxima (tengah) bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar (kiri) dan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi, menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers, di Rumah Imam Bonjol, Jalan Imam Bonjol 66, Jakarta, Kamis, 27 November 2025. (Foto: Yulian Saputra)
Poin Penting
Jakarta – Penasihat Khusus Sekjen PBB untuk Kesehatan Finansial (UNSGSA) yang juga Ratu Belanda, Maxima Zorreguieta Cerruti, menyampaikan dampak positif dan negatif kredit perbankan dalam National Financial Health Event bersama OJK, Kamis, 27 November 2025.
Ratu Maxima menyatakan bahwa kredit bank sangat penting untuk disalurkan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), juga dapat mendorong masyarakat memenuhi kebutuhan hidup, seperti pembelian rumah.
Tidak hanya itu, menurutnya, kredit juga dapat membantu arus keuangan masyarakat. Dengan adanya kredit, biasanya orang mendorong untuk menunda pengeluaran besar dan membayarnya melalui cicilan.
Baca juga: Disambut OJK, Ratu Máxima Akan Memulai Agenda Kesehatan Finansial di Indonesia
Namun, Maxima menekankan bahwa kredit yang diambil seseorang harus dibatasi dan tidak berlebihan. Banyaknya kredit bisa membuat individu bekerja keras hanya untuk membayar cicilan.
“Jika Anda memiliki terlalu banyak kredit, maka kita sebenarnya bisa masuk ke dalam situasi di mana Anda terjerat terlalu banyak, Anda tahu, terlalu banyak kewajiban, dan kemudian Anda bekerja hanya untuk membayar kredit itu,” ucap Maxima.
Ia pun mengingatkan pentingnya menyusun batas jumlah pinjaman bank yang ideal sesuai kemampuan keuangan masing-masing.
Baca juga: Queen Maxima Tegaskan Pentingnya Menjaga Kesehatan Finansial
Maxima bercerita, baru saja berbincang dengan Direktur Utama BRI Hery Gunardi dan ia mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen karyawan bank pelat merah itu menggunakan setengah penghasilan mereka untuk membayar utang.
Lebih lanjut, Maxima menegaskan bahwa masalah dari pinjamam bank atau kredit tersebut menjadi masalah masing-masing debitur, yang dapat meluas menjadi masalah negara.
Sehingga, menurutnya solusi untuk menghindari kredit macet harus diupayakan oleh masing-masing individu.
“Saya pikir jika setiap orang menganggarkan dan sesuai dengan kebutuhan mereka, mereka seharusnya tahu seberapa besar ruang mereka untuk mendapatkan kredit yang seharusnya dan ini masalah pribadi, dan masalah negara,” tutupnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting BNI menghadirkan promo “Ramadan Berlomba Kebaikan Bersama BNI” dengan diskon belanja hingga Rp70.000.… Read More
Poin Penting Sompo Indonesia mengingatkan perjalanan mudik Idulfitri memiliki berbagai risiko, sehingga perlu perlindungan sejak… Read More
Poin Penting Pemprov Jabar menghentikan operasional angkot di jalur Puncak selama lima hari pada periode… Read More
Poin Penting Hingga 15 Maret 2026 pukul 24.00 WIB, DJP mencatat 8.125.023 SPT Tahunan PPh… Read More
Point Penting Pendapatan 2025 capai Rp7,87 triliun, sementara kerugian berhasil ditekan 15 persen dibandingkan tahun… Read More
Poin Penting PT Jasamarga Transjawa Tol memberlakukan diskon tarif tol sebesar 30 persen di ruas… Read More