Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (Foto: Erman Subekti)
Poin Penting
Jakarta – Pasar keuangan domestik mencatatkan pergerakan beragam sepanjang pekan lalu. Berdasarkan riset Syailendra Research, rupiah tertekan, sementara IHSG mampu bertahan di zona hijau meski pasar obligasi masih dibayangi aksi jual investor asing.
Syailendra Research merangkum, nilai tukar rupiah tercatat melemah 1,2 persen secara mingguan ke level Rp16.770 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda ini seiring dengan penguatan tipis indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,6 persen week on week (wow) ke posisi 98,2.
Sementara di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menguat tipis 0,6 persen wow ke level 8.099.
Baca juga: Awal Pekan Cerah, IHSG Dibuka Menguat ke Posisi 8.144
Kenaikan IHSG tersebut ditopang derasnya aliran modal asing yang masuk mencapai Rp4,51 triliun sepanjang 22–25 September 2025.
Adapun dari bursa saham AS relatif stagnan, bahkan terkoreksi tipis di kisaran 0,2 persen hingga 0,5 persen wow.
Baca juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Level Rp16.645 per Dolar AS
Sebaliknya, pasar obligasi domestik mendapat tekanan. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun (ID10Y) naik dari 6,3 persen menjadi 6,4 persen.
Kondisi tersebut diperparah dengan arus keluar dana asing sebesar Rp2,2 triliun dari Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp5,1 triliun dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada periode yang sama.
Sementara itu, yield US10Y relatif stabil di level 4,1 persen selama dua pekan terakhir. (*)
Poin Penting Astra Otoparts (AUTO) membukukan laba bersih Rp2,20 triliun pada 2025, meningkat dari Rp2,03… Read More
Poin Penting Program MBG telah menyerap Rp36,6 triliun hingga 21 Februari 2026, setara 10,9% dari… Read More
Poin Penting Pemerintah perpanjang penempatan dana SAL Rp200 triliun hingga September 2026 untuk menjaga likuiditas… Read More
Poin Penting Harga emas Antam, Galeri24, dan UBS kompak naik pada 24 Februari 2026 di… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka melemah 0,20% ke level Rp16.835 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya… Read More
Poin Penting Bank INA optimistis mampu melampaui target pertumbuhan kredit 8–12 persen dari OJK dengan… Read More