Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi di Jakarta, Kamis (2/4). (Foto: Steven Widjaja)
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana kembali menemui pimpinan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada April 2026, setelah merampungkan empat inisiatif strategis reformasi pasar modal untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pasar modal RI.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menerangkan, dengan dirampungkannya empat inisiatif tersebut, maka seluruh agenda reformasi dinyatakan rampung dan dapat dijadikan dasar komunikasi terhadap investor global.
“Seluruh inisiatif tersebut telah kita selesaikan dan tuntaskan,” ujar Hasan saat konferensi pers di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis, 2 April 2026.
Baca juga: Pasar Modal RI Diguncang MSCI, Investor Global Makin Hati-hati
Hasan mengungkapkan bahwa OJK akan menginisiasi pertemuan dengan pimpinan MSCI pada minggu ketiga April guna membahas lebih lanjut rampungnya empat inisiatif strategis reformasi pasar modal RI.
Sementara, Self-Regulatory Organization (SRO) yang terdiri atas Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) juga dijadwalkan melakukan komunikasi dengan MSCI dalam waktu dekat.
“Intinya kita yang akan berinisiatif meminta waktu sampai ke tingkat pimpinannya. Minggu ketiga bahkan ada kemungkinan kita (OJK) akan secara khusus mendatangi mereka. Di minggu depan sudah ada teman-teman SRO (bertemu MSCI),” sebutnya.
OJK merampungkan empat inisiatif strategis utama sebagai bagian dari reformasi pasar modal nasional, yakni pertama, transparansi kepemilikan saham melalui publikasi data pemegang saham di atas 1 persen untuk seluruh emiten. Data yang bersumber dari KSEI tersebut diperbarui setiap akhir bulan dan dipublikasikan pada awal bulan berikutnya.
“Jadi, silakan dilihat dan ini akan konsisten kami lakukan setiap bulannya,” ucap Hasan.
Baca juga: Tanggapan Wakil Ketua DEN soal Penurunan Rating Moody’s dan Rebalancing Indeks MSCI
Kedua, peningkatan kualitas data investor yang mulai dipublikasikan sejak 1 April 2026.
Ketiga, penguatan kebijakan free float, termasuk penyesuaian definisi yang mengacu pada praktik global serta peningkatan batas minimal saham beredar di publik.
Keempat, penerapan mekanisme high shareholding concentration yang memberikan informasi tambahan mengenai saham dengan kepemilikan terkonsentrasi sebagai sistem peringatan dini bagi investor.
“Ini bukan karena pelanggaran, tetapi memberikan informasi daftar saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada sedikit pihak,” tukas Hasan. (*) Steven Widjaja
Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More
Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More
Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More
Poin Penting Nobu Bank catat laba Rp481,3 miliar di 2025, tumbuh 46,3% yoy. Kredit naik… Read More