Pergerakan pasar modal/istimewa
Jakarta – Memasuki bulan kedua di 2024, beberapa emiten perbankan telah menyusun rencana aksi korporasi. Mulai dari aksi menerbitkan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue hingga pembelian kembali saham atau buyback.
Untuk aksi korporasi buyback saham, misalnya, ada dua emiten bank yang bakal melakukan aksi tersebut, yakni PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA).
Pada 24 Januari 2024 lalu, Bank OCBC NISP telah mengumumkan bahwa akan melakukan aksi korporasi buyback saham yang membutuhkan biaya sebanyak Rp800 juta, di mana saham yang akan dibeli kembali tersebut maksimum sebanyak 402 ribu lembar saham.
Pembelian kembali saham tersebut paling lama akan dilakukan pada 12 bulan sejak disetujuinya pembelian kembali saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang akan digelar pada 18 Maret 2024.
Lalu, aksi buyback saham tersebut dalam rangka pemberian remunerasi yang bersifat variabel kepada manajemen dan karyawan ini juga sesuai dengan Peraturan OJK No.29/2023 serta akan dilaksanakan dengan mengikuti dan tunduk kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Baca juga: Berkat Hal Ini, Harga Saham Bank Himbara Kompak Cetak Rekor Tertinggi
Berdasarkan keterbukaan informasi, Bank CIMB Niaga, 19 Februari 2024, mengumumkan bahwa, bakal melakukan aksi buyback saham dengan menyiapkan dana sebanyak Rp500 juta untuk 202 ribu lembar saham.
Aksi buyback saham tersebut dilakukan setelah persetujuan para pemegang saham melalui RUPST pada 3 April 2024.
Aksi buyback saham tersebut untuk meningkatkan kinerjanya di tengah persaingan ketat dalam industri perbankan di Indonesia, untuk menjaga kesehatan bank secara individual, termasuk untuk memitigasi adanya excessive risk taking dalam pengambilan keputusan oleh Manajemen Perseroan yang termasuk MRT.
Di samping aksi korporasi buyback saham, beberapa bank diketahui juga melakukan aksi korporasi rights issue, di antaranya adalah PT Bank Mayapada Tbk (MAYA), PT Bank BTPN Tbk (BTPN), dan PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA).
Berdasarkan keterbukaan informasi, Bank Mayapada akan melakukan Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD XIV).
Bank Mayapada akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 26,74 miliar saham Seri B atau sebanyak-banyaknya 69,33 persen dari total modal ditempatkan atau disetor penuh usai rights issue dengan nominal Rp100 dengan harga pelaksanaan Rp150.
Adapun jumlah dana yang diperoleh dari PMHMETD XIV seluruhnya berjumlah sebanyak-banyaknya Rp4,01 triliun.
Bank BTPN, telah mengumumkan bahwa akan melakukan aksi korporasi rights issue melalui Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD II).
Dalam aksi tersebut, BTPN menawarkan sebanyak 2,58 miliar saham biasa atas nama dengan nilai nominal Rp20 per saham atau sebesar 24,32 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan harga pelaksanaan sebesar Rp2.600 per saham.
Adapun jumlah dana yang akan diterima Perseroan dalam rangka PMHMETD II ini sebesar Rp6,73 triliun.
Setelah diumumkannya tanggal pencatatan untuk memperoleh HMETD pada 29 Februari 2024, selanjutnya pencatatan efek di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaksanakan pada 4 Maret 2024.
Baca juga: 4 Emiten Baru Melantai di BEI, Harga Sahamnya Kompak Naik
Berdasarkan keterbukaan informasi, Bank Woori Saudara Indonesia 1906 akan menawarkan sebanyak-banyaknya 6,4 miliar lembar saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham atau sebesar 42,8 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan setelah PMHMETD IV.
Nantinya, setiap pemegang 2.142.058.591 Saham Lama yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) Perseroan pada 22 Maret 2024 berhak memperoleh 1,6 miliar HMETD. Setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli sebanyak satu saham baru.
Namun, untuk nilai nominal saham dan dana yang akan diraih oleh perseroan belum dijelaskan secara rinci. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More
Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More
Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More
Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More
Poin Penting ALFI mendesak pemerintah melakukan harmonisasi regulasi KBLI 2025 karena dinilai memicu inefisiensi dan… Read More