Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Poin Penting
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menarik dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari total Rp276 triliun yang semula ditempatkan di sistem perbankan.
Menurut Purbaya, dampak penempatan dana pemerintah di sistem perbankan tidak seoptimal yang diperkirakan.
“Jadi pelan-pelan kita tarik sedikit ya, sekarang di bank sisanya ada Rp201 triliun yang di perbankan, yang Rp75 triliun kita tarik,” kata Purbaya dikutip, Sabtu, 3 Januari 2025.
Purbaya menyatakan, uang pemerintah yang ditarik tersebut telah dibelanjakan dan masuk kembali ke dalam sistem keuangan, sehingga juga dapat memberikan dampak bagi perekoniomian nasional.
Baca juga: Purbaya Tambah DAU Rp7,66 Triliun untuk THR dan Gaji ke-13 Guru ASN Daerah
“Jadi dampak dari itu masih ada di sistem, jadi bukan dipinjemin oleh banknya. Saya tarik, saya masukkan lagi ke sistem dalam bentuk belanja pemerintah, daerah, dan pusat. Jadi ke ekonomi dampaknya mungkin lebih positif,” ujarnya.
Diketahui, pada September 2025 Purbaya menempatkan dana pemerintah yang sebelumnya berada di Bank Sentral ke perbankan sebesar Rp200 triliun kepada himpunan bank milik negara (Himbara).
Kemudian, pada November 2025 pemerintah kembali menempatkan dana ke perbankan sebesar Rp76 triliun. Dana tersebut tersebar di Bank Mandiri sebesar Rp25 triliun, Bank Rakyat Indonesia (BRI) Rp25 triliun, Bank Negara Indonesia (BNI) Rp25 triliun, dan Bank Jakarta Rp1 triliun.
Mantan Bos LPS ini menyatakan, Bank Indonesia (BI) turut mendukung kebijakannya, sebab uang akan semakin banyak di sistem untuk mendorong perekonomian. Purbaya juga meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir ekonomi Indonesia akan melambat.
“Dua minggu terakhir, bank sentral sudah mendukung kebijakan kami, artinya uang akan semakin banyak di sistem perekonomian. Jadi anda gak usah takut ekonomi kita akan melambat,” pungkasnya.
Di sisi lain, Purbaya mengatakan dampak dari penempatan dana pemerintah di sistem perbankan tidak seoptimal proyeksinya. Purbaya menilai seharusnya dengan kebijakan tersebut perekonomian domestik sudah lari lebih cepat.
“Dampak kebijakan injeksi uang yang kita taruh di sistem perbankan, itu nggak seoptimal yang saya duga. Harusnya ekonomi lari lebih lebih cepat, karena ada sedikit ketidaksinkronan kebijakan antara kami dengan Bank Sentral yang sekarang sudah dibereskan,” ungkapnya.
Baca juga: Purbaya: Akhir 2026 IHSG Berpotensi Tembus 10.000, Ini Kalkulasinya
Meski demikian, Purbaya menyebut telah menyelaraskan kebijakannya dengan BI. Dengan begitu, ia optimis ekonomi Indonesia di tahun 2026 bisa mencapai 6 persen. Sementara, untuk keseluruhan tahun 2025 akan mencapai 5,2 persen.
“2025 kita sekarang masih angka untuk kuartal IV di atas 5,5 persen, full year sekitar 5,2 persen,” tandas Purbaya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More
Poin Penting Pemerintah menetapkan kebijakan WFH bagi ASN satu hari per minggu (setiap Jumat) mulai… Read More
Poin Penting LPS mulai verifikasi nasabah PT BPR Pembangunan Nagari per 31 Maret 2026, menyusul… Read More
Poin Penting RUPST PT Bank Mega Tbk menyetujui seluruh sembilan mata acara Tahun Buku 2025,… Read More
Poin Penting Tercatat 5.888 aduan mis-selling PAYDI (2020–pertengahan 2025), dengan 686 kasus terbukti dan 5.004… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,61 persen ke level 7.048,22. Mayoritas sektor dan seluruh indeks… Read More