Ekonomi dan Bisnis

Purbaya Tanggapi Investigasi Dagang AS: Surplus Indonesia Hal Wajar

Poin Penting

  • Menkeu Purbaya menilai investigasi perdagangan AS terhadap Indonesia merupakan hal biasa dalam dinamika perdagangan global.
  • Purbaya menyebut surplus perdagangan Indonesia terjadi karena produk domestik lebih kompetitif dari sisi harga.
  • Purbaya mengingatkan risiko muncul jika tarif AS terhadap Indonesia lebih tinggi dibanding negara pesaing.

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai rencana investigasi perdagangan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia merupakan hal yang wajar dalam hubungan perdagangan internasional.

Menurutnya, investigasi yang dilakukan oleh United States Trade Representative (USTR) tidak perlu disikapi secara berlebihan karena praktik tersebut umum terjadi dalam perdagangan global.

“Saya pikir enggak apa-apa, investigasi itu hal yang biasa,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.

Baca juga: Integritas Kemenkeu Banyak Dipertanyakan Publik, Purbaya: Saya Kesulitan Jaga ‘Image’

Surplus Perdagangan Indonesia

Purbaya menjelaskan investigasi tersebut kemungkinan dipicu oleh surplus perdagangan Indonesia terhadap AS yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan AS merupakan salah satu tujuan ekspor terbesar Indonesia, terutama untuk produk manufaktur, tekstil, dan komoditas berbasis sumber daya alam.

Menurut Purbaya, daya saing produk Indonesia di pasar AS salah satunya dipengaruhi oleh biaya produksi yang relatif lebih rendah.

“Barang kita lebih murah dibanding barang Amerika karena ongkos produksi kita lebih rendah, jadi secara relatif kita lebih kompetitif,” ujarnya.

Risiko Tarif Perdagangan

Meski demikian, Purbaya mengingatkan potensi risiko dapat muncul apabila AS menerapkan tarif tambahan yang lebih tinggi terhadap produk Indonesia dibanding negara pesaing.

“Kalau kenaikan tarifnya sama dengan negara lain kita tidak ada masalah. Tapi kalau kita dikenakan lebih tinggi, kita harus melakukan efisiensi yang lain,” kata Purbaya.

Namun ia tetap optimistis prospek perdagangan Indonesia ke depan masih cukup positif meski terdapat dinamika kebijakan perdagangan global.

“Harusnya prospeknya ke depan tidak terlalu buruk, bahkan dengan investigasi dari USTR,” katanya.

Baca juga: Investasi Tersendat! Menkeu Purbaya Usut 3 “Bottleneck” Ini

Pemerintahan AS pada Rabu (11/3) memulai penyelidikan perdagangan atas dugaan praktik tidak sehat terhadap Indonesia, Jepang, dan belasan mitra dagang lainnya, setelah Mahkamah Agung AS mencabut kebijakan tarif impor tinggi.

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan penyelidikan tersebut bertujuan mengungkap “serangkaian praktik dagang tidak sehat terkait kapasitas berlebih dan produksi manufaktur” sebagai dasar penetapan tarif impor baru yang lebih tinggi. (*)

Editor: Yulian Saputra

Prima Gumilang

Recent Posts

IHSG Ditutup Anjlok 3,05 Persen ke Level 7.137, 629 Saham Merah

Poin Penting IHSG anjlok 3,05 persen pada penutupan Jumat (13/3/2026) ke level 7.137,21, turun dari… Read More

2 mins ago

Satu Tahun Danantara: Memperkuat Fondasi untuk Masa Depan Generasi Indonesia

Poin Penting Danantara Indonesia merayakan satu tahun berdiri melalui refleksi kelembagaan yang dihadiri Presiden Prabowo… Read More

19 mins ago

Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Energi, Pengamat Minta Publik Tak Panic Buying BBM

Poin Penting Pengamat menilai ketahanan energi Indonesia cukup kuat menghadapi gejolak geopolitik di Timur Tengah.… Read More

1 hour ago

Transaksi Emas KTA iB Multiguna Dorong Pertumbuhan Bisnis Syariah Permata Bank

Poin Penting Minat masyarakat terhadap investasi emas meningkat dan turut mendorong pertumbuhan bisnis Unit Usaha… Read More

2 hours ago

Soal Defisit APBN di Atas 3 Persen, Purbaya Masih Hitung Dampaknya

Poin Penting Purbaya menyatakan pemerintah masih mengkaji kemungkinan pelebaran defisit APBN di atas 3 persen… Read More

2 hours ago

Pemerintah Tarik Utang Baru Rp185,3 Triliun di Februari 2026

Poin Penting Utang baru Rp185,3 triliun telah ditarik pemerintah hingga Februari 2026, setara 22,3 persen… Read More

2 hours ago