Poin Penting
- Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kurva imbal hasil SBN yang terbalik (inverted yield curve) bukan sinyal Indonesia menuju resesi
- Menurut Purbaya, kondisi inverted yield curve di Indonesia tidak sepenuhnya mencerminkan mekanisme pasar
- Purbaya memastikan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat dan masih berada dalam fase ekspansi yang bahkan menunjukkan akselerasi, sehingga tidak ada indikasi perekonomian menuju resesi.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyangkal adanya fenomena inverted yield curve atau imbal hasil Surat berharga Negara (SBN) menunjukkan kurva terbalik sebagai sinyal bahwa perekonomian memasuki jurang resesi.
Adapun inverted yield curve atau kurva imbal hasil terbalik merupakan kondisi di mana imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang lebih rendah dibanding obligasi bertenor pendek.
Kondisi ini biasanya diartikan sebagai tanda-tanda resesi ekonomi, sebab seharusnya obligasi jangka panjang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Baca juga: Purbaya Lapor APBN Defisit Rp180,4 Triliun pada Mei 2026
“Yang jangka pendek kan dinaikin Bank Indonesia (BI) sengaja lewat SRBI akhirnya inverted, tapi bukan menggambarkan itu akan resesi karena tidak pure market condition yang menjalankan itu,” ujar Purbaya dalam konferensi Pers APBN KiTa, dikutip, Senin, 8 Juni 2026.
Purbaya menjelaskan berbeda dengan negara lain, teori tersebut tidak selalu bisa disamakan dengan kondisi perekonomian Indonesia tanpa melihat penyebab sebenarnya.
“Ini nggak (bukan market base). Kan ada action dari bank sentral menaikan jangka pendek untuk menarik dolar masuk ke sini, jadi itu bukan tanda resesi,” ungkapnya.
Baca juga: Purbaya Pastikan APBN Aman meski Rupiah Makin Tertekan: Kita Sudah Hitung
Purbaya mengimbau pasar untuk melihat data-data dari perekonomian suatu negara. Ia mengklaim, fondasi ekonomi Indonesia masih baik, bahkan menunjukkan ekspansi.
“Jadi itu yang harus dimengerti oleh para investor juga, semuanya bagus kok nggak ada masalah bank sentral tidak akan menurunkan suku bunga ke depan gara-gara kita resesi. Saya hanya bisa bilang fondasi ekonomi kita bagus dan tidak membutuhkan suku bunga yang rendah sekali gara-gara kita memasuki masa resesi, kita masih ekspansi bahkan ekspansinya mengalami akselerasi,” jelasnya. (*)
Editor: Galih Pratama


