Moneter dan Fiskal

Purbaya Bakal Sikat 40 Perusahaan Baja China-Indonesia yang Diduga Mengemplang Pajak

Poin Penting

  • Menkeu Purbaya temukan 40 perusahaan baja asal China dan Indonesia yang diduga mengemplang PPN, dengan dua perusahaan besar akan segera disidak.
  • Indikasi keterlibatan internal mencuat karena perusahaan berskala besar seharusnya mudah terdeteksi dalam sistem pengawasan pajak.
  • Modus transaksi tunai (cash basis) diduga digunakan agar lolos dari sistem perpajakan, dengan potensi kerugian negara hingga Rp4 triliun per perusahaan per tahun

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan adanya 40 perusahaan baja yang terdeteksi tidak membayar pajak pertambahan nilai (PPN) ke negara. Pemerintah akan segera mengambil langkah tegas terhadap perusahaan-perusahaan tersebut.

“Yang baja itu yang terdeteksi ada 40 perusahaan, yang 2vbesar akan kita sidak dalam waktu singkat,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026.

Purbaya menjelaskan, dari puluhan perusahaan yang diduga mengemplang pajak tersebut, tidak hanya berasal dari China, tetapi juga melibatkan perusahaan lokal Indonesia yang tidak patuh terhadap kewajiban perpajakan.

Baca juga: Menkeu Purbaya Ungkap Perusahaan Baja China di RI Diduga Tak Bayar PPN

Eks Bos LPS itu juga menyoroti lemahnya pengawasan internal, mengingat perusahaan-perusahaan tersebut tergolong besar dan seharusnya mudah terdeteksi oleh sistem.

“Ada yang China, ada yang Indonesia juga. Nah itu teka-teki saya juga. Harusnya kan kalau perusahaan besar kan gampang ngeliatnya, berarti orang saya ada yang terlibat, nanti kita lihat ya,” ungkapnya.

Modus Transaksi Tunai

Sebelumnya, Purbaya mengungkapkan adanya perusahaan baja asal China yang beroperasi di Indonesia namun tidak memenuhi kewajiban PPN.

“Ada perusahan baja China operasi di sini loh, nama-namanya mungkin mereka beli KTP tapi dia gak bayar PPN. Tadinya mau digerebek tapi nanti kita lihat saat yang pas,” ujar Purbaya di Kantornya, Kamis, 8 Januari 2026.

Baca juga: 4 WNI Dilaporkan Diculik Bajak Laut di Perairan Gabon Afrika

Purbaya menjelaskan, perusahaan-perusahaan tersebut diduga melakukan transaksi langsung ke klien secara tunai agar tidak terdeteksi dalam sistem perpajakan. Praktik ini dinilai merugikan negara dalam jumlah yang sangat besar.

“Ya pengusahanya dari China, punya perusahaan di sini, orang China semua, nggak bisa bahasa Indo. Jual langsung ke klien cash bases. Gak bayar PPN, saya rugi banyak itu. Nanti kita tindak denga cepat. Ada baja, ada perusahaan bangunan tadi,” tegasnya.

Purbaya menambahkan, potensi penerimaan pajak dari satu perusahaan baja saja dapat mencapai sekitar Rp4 triliun per tahun. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

KCIC Pastikan Whoosh Aman di Tengah Cuaca Ekstrem, Sensor Berjalan Optimal

Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More

11 hours ago

RI-Jepang Teken MoU Rp384 T, DPR Soroti Realisasi di Lapangan

Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More

11 hours ago

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Investigasi dan Evaluasi UNIFIL

Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More

12 hours ago

Saham Bank INFOBANK15 Bergerak Variatif di Akhir Pekan, Ini Rinciannya

Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More

18 hours ago

BEI Rangkum 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More

18 hours ago

IHSG Sepekan Melemah 0,99 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.305 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More

19 hours ago