Poin Penting
Jakarta – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek pasar saham domestik pada 2026 tetap konstruktif dengan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 10.500.
Target tersebut didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Chief Economist and Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan target tersebut sejalan dengan pergerakan IHSG yang menunjukkan tren positif sejak awal 2026, melanjutkan momentum dari tahun sebelumnya.
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih lemah,” ucap Rully dalam keterangan resmi dikutip, Kamis, 15 Januari 2026.
Baca juga: IHSG Ditutup Menguat 0,47 Persen ke Level 9.075
Selain itu, tekanan eksternal masih membayangi pasar keuangan domestik.
Sentimen risk- off global mendorong penguatan indeks Dolar AS (DXY) yang berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah. Rupiah bahkan pertama kalinya ditutup di atas level 16.800 per dolar AS sejak April 2025.
Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi rupiah menyebabkan Bank Indonesia (BI) memiliki ruang yang sempit untuk menurunkan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20-21 Januari 2026.
“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” imbuhnya.
Menurutnya, dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 5,3 persen pada 2026, dari 5,1 persen pada tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut dinilai sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif dan menjaga kesinambungan pertumbuhan.
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” ujar Rully.
Baca juga: IHSG Sesi I Hijau di 9.046, Sempat Cetak ATH Baru
Adapun dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal tahun didorong saham-saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS. Tren ini berpotensi berlanjut seiring penguatan harga komoditas, khususnya emas, di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Selain komoditas, sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga berpotensi menjadi pendorong IHSG, didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi jaringan yang berkelanjutan,” tutupnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More
Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More
Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More
Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More
Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More
Poin Penting Bank Ayandeh bangkrut pada akhir 2025, meninggalkan kerugian hampir USD5 miliar akibat kredit… Read More