Perumahan; Aset investasi. (Foto: Dok. Infobank)
Jakarta–Menurut hasil survei Property Affordability Sentiment Index 2015 menyebutkan, bahwa orang Indonesia masih berminat untuk membeli properti di 2016 ini meski harga properti dianggap terlalu tinggi dan pertumbuhan ekonomi di 2015 belum stabil.
“Sebanyak 61% responden menyatakan puas dengan kondisi properti Indonesia di mana jumlah ini meningkat 9% dari tahun 2013,” ujar Wasudewan, Country Manager Rumah.com dalam keterangannya di Jakarta.
Property Affordability Sentiment Index 2015 merupakan survei yang dilakukan situs jual beli properti yakni Rumah.com bersama Added Value Saffron Hill dengan total 1.070 responden dari Indonesia. Survei ini berlangsung selama November-Desember 2015.
Survei ini juga mencatat, beberapa indikator yang memperkuat keyakinan konsumen dalam mengambil keputusan properti, antara lain 58% merasa yakin dengan prospek peningkatan harga dalam jangka panjang, 39% menganggap pertumbuhan properti dalam negeri sangat bagus, dan 27% bunga KPR saat ini relatif rendah.
Meski demikian, sebagian konsumen properti juga menyatakan ketidakpuasan terhadap kondisi industri properti saat ini. Beberapa fakta yang ditemukan, antara lain 73% merasa harga properti saat ini sangat mahal, 54% menganggap performa ekonomi dalam negeri tidak terlalu bagus, dan 49% harga properti naik terlalu cepat.
Kendati begitu, kata Wasudewan, ketidakpuasan ini tidak membendung para pencari properti untuk membeli hunian, karena 63% responden menyatakan akan berencana membeli properti dalam enam bulan ke depan.
“Hasil Property Affordability Sentiment Index 2015 menunjukkan insight positif masyarakat Indonesia terhadap kondisi properti di Indonesia tahun ini,” tukasnya.
Dia menilai, infrastruktur yang dibangun pemerintah yang terus mendapat sambutan positif, juga ikut memberikan pengaruh penting dalam meningkatkan keyakinan konsumen properti dalam mengambil keputusan. Selain itu, suku bunga acuan (BI Rate) yang sudah turun menjadi 6,5% diharap dapat segera direspon oleh perbankan dengan ikut menurunkan suku bunga KPR/KPA.
“Melihat kondisi ini, tentu kita berharap prospek properti di 2016 ini akan kembali bangkit dan menggairahkan industri properti dalam negeri,” tutup Wasudewan. (*)
Editor: Paulus Yoga
Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu dan menangkap Rizal, mantan Direktur… Read More
Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More
Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More
Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More
Poin Penting NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan… Read More
Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More