Ia menilai, anggaran tersebut utamanya digunakan untuk peningkatan produksi dan produktivitas pangan (supply side) dan dialokasikan melalui empat komponen, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian PUPR, Subsidi Pupuk dan Subsidi Benih.
Enny menambahkan, total belanja keempat komponen ini melonjak 61,7 persen dari Rp40,2 triliun (2014) menjadi Rp65 triliun (2017). Artinya empat komponen ini telah menyedot 59,5 persen dari total alokasi anggaran kedaulatan pangan.
Baca juga: Kredit ke Sektor Pangan Belum Optimal
Selain itu Enny juga mengkritisi persoalan impor beras yang masih cukup besar. Dirinya menyayangkan anggaran dan subsidi meningkat, namun impor beras juga tetap terjadi dan dinilainya masih tinggi.
Tercatat berdasarkan data PIB (Pemberitahuan lmpor Barang), Ditjen Bea Cukai menunjukkan impor beras mencapai 1,3 juta ton pada 2016. Kendati ada penurunan menjadi sebesar 94 ribu ton pada periode Januari-Mei 2017. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting IHSG melonjak 4,42% ke level 7.279, dengan mayoritas saham (623) ditutup menguat. Seluruh… Read More
Poin Penting: Biaya haji 2026 terancam naik signifikan akibat kenaikan harga avtur, asuransi, dan tekanan… Read More
Poin Penting Ancaman siber makin kompleks dan canggih (APT, AI, eksploitasi mobile), berdampak pada operasional,… Read More
Poin Penting SIPF belum memiliki payung hukum kuat, karena belum diatur dalam undang-undang meski risiko… Read More
Poin Penting Konflik Timteng memicu risiko gangguan infrastruktur digital global, termasuk data center dan jaringan… Read More
Poin Penting Kebocoran data masih terjadi karena penggunaan banyak tools keamanan yang tidak terintegrasi (silo),… Read More