Perbankan

Produk Lama Bukan Halangan untuk Digital Banking

Jakarta – Digitalisasi menjadi ladang usaha baru bagi sektor perbankan untuk menarik dan memudahkan pelanggan dalam bertransaksi. Namun, digitalisasi tidak dapat langsung terjadi, para bankir perlu memerhatikan kondisi nasabah senior sehingga tidak dapat langsung menghilangkan produk lama atau non digital.

Jahja Setiaatmadja selaku Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk berpendapat bahwa digitalisasi memiliki dua jenis, yaitu digital internal dan digital eksternal. Secara eksternal, digitalisasi terjadi pada produk yang dikeluarkan.

“Digital eksternal misalnya, produk. Di BCA kita ada m-banking, myBCA, Internet BCA, Welma dan produk ini kita harus mencoba sendiri jadi, kita bisa me-review sehingga dapat membantu nasabah di kemudian hari,” ujar Jahja dalam sebuah webinar, Kamis, 28 Juli 2022.

Pentingnya internal perusahaan dalam mencoba produk baru dapat menjadi salah satu cara menanggulangi risiko karena saat ini nasabah yang menggunakan produk tersebut bukan hanya kaum millenial namun juga nasabah senior yang memerlukan edukasi terhadap produk-produk digital dan perusahaan juga harus mempertahankan produk lama.

“Nasabah bukan hanya millenial dan itu menjadi masalah untuk kita sehingga tidak bisa langsung menghilangkan produk-produk lama seperti, SMS banking, itu masih harus dipertahankan,” ungkap Jahja.

Selain digitalisasi produk yang harus diperhatikan, teknik pemasaran yang menjadi tonggak untuk menarik nasabah juga harus diperhatikan. Jahja mengatakan, bahwa pemasaran juga tidak dapat serta merta langsung terdigitalisasi mengingat nasabah senior yang masih harus diperhatikan.

“Marketing gaya lama harus tetap ada, tidak bisa menyuruh semua nasabah untuk lihat TikTok atau Instagram karena para nasabah senior tidak semua paham hal itu dan call center sekarang bukan hanya sebagai tempat komplain nasabah tapi juga sebagai edukator untuk produk-produk baru yang terdigitalisasi,” jelas Jahja.

Baca juga : Empat Pilar RP2I 2020-2025 OJK di Era Digital Banking

Sehingga pemimpin perusahaan bukan hanya harus memerhatikan nasabah-nasabah millenial yang melek teknologi namun nasabah senior juga harus diprioritaskan dan perusahaan harus peka terhadap kebutuhan yang dapat merangkul segala jenis nasabah.

“Kebutuhan nasabah Anda menjadi prioritas dibandingkan kebutuhan perusahaan Anda,” pungkas Jahja. (*) Fatin

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Kasus Suap Pajak, Purbaya Kocok Ulang PNS DJP: Ke Daerah Terpencil atau Dirumahkan

Poin Penting Menkeu Purbaya akan mengevaluasi pegawai DJP usai OTT KPK terkait dugaan suap pemeriksaan… Read More

7 mins ago

Pemimpin Bank Sentral Global Kompak Dukung Powell usai Ancaman Pidana Trump

Poin Penting Bank sentral global kompak dukung Jerome Powell usai ancaman pidana dari Donald Trump.… Read More

46 mins ago

Pendanaan Pindar Diprediksi Menanjak di Periode Ramadan, Begini Kata OJK

Poin Penting Pendanaan pindar cenderung meningkat saat Ramadan, didorong naiknya kebutuhan konsumsi dan modal usaha… Read More

1 hour ago

Dividen Interim Bank Mandiri (BMRI) Rp9,3 T Dibagikan Hari Ini, Berikut Rinciannya

Poin Penting Bank Mandiri membagikan dividen interim Rp9,3 triliun atau Rp100 per saham kepada pemegang… Read More

2 hours ago

Purbaya Minta Pasar Tak Panik, Rupiah Diprediksi Menguat

Poin Penting Rupiah melemah ke level Rp16.864 per dolar AS, namun pemerintah menilai kondisi tersebut… Read More

2 hours ago

Rupiah Hampir Menyentuh Rp17.000 per Dolar AS, Begini Respons BI

Poin Penting Rupiah melemah mendekati Rp17.000 per dolar AS akibat tekanan global, termasuk tensi geopolitik… Read More

3 hours ago