Dari kiri ke kanan: Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi; Dewan Penasihat Prasasti, Burhanuddin Abdullah; dan Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah. (Foto: M. Adrianto)
Jakarta – Incremental Capital Output Ratio (ICOR) adalah rasio yang mengukur jumlah investasi tambahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit tambahan output. Semakin tinggi ICOR, semakin besar investasi yang diperlukan untuk menciptakan output baru, begitu pula sebaliknya.
Burhanuddin Abdullah, Anggota Dewan Penasihat Prasasti for Policy Studies (Prasasti), menyebut ICOR yang rendah akan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia dan berpotensi mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Baca juga: Presiden Prabowo Ultimatum Pejabat: Sederhanakan Regulasi atau Dicopot
“Hitungan-hitungan kami dulu, kalau dengan ICOR kita 6,5 persen, dan kita ingin (mencapai ekonomi) 8 persen, maka kita memerlukan sekitar 52 persen dari PDB investasi kita untuk bisa tumbuh 8 persen,” jelas Burhanuddin pada Selasa, 12 Agustus 2025.
Burhanuddin mencontohkan, jika Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp22.000 triliun, maka lebih dari Rp11.000 triliun investasi dibutuhkan untuk mencapai target tersebut. Ia berharap efisiensi sektor dalam negeri bisa ditingkatkan agar pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat tercapai.
Menurutnya, jika target itu terpenuhi, Indonesia bisa lepas dari jeratan middle income trap dalam waktu kurang dari 10 tahun.
Baca juga: Pertumbuhan Sektor Manufaktur dan Deindustrialisasi
“Perhitungan Bappenas kan menyebut, kalau (pertumbuhan ekonomi) 6 persen, kita akan keluar dari middle income gap pada tahun 2041. Dan kalau bisa 7 persen on average, kita bisa keluar tahun 2038. Kalau 8 persen, kita akan (keluar lebih cepat lagi),” imbuhnya.
Setali dua uang, Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti menyebut, ICOR Indonesia pernah sangat rendah. Sebelum dekade 1980-an, ICOR domestik konsisten di kisaran 3 persen.
“Sekarang, kenyataannya kita sekarang perlu investasi USD6 dollar untuk menghasilkan 1 dollar dalam perekonomian. Dengan kata lain, kenaikan 2 kali lipat ini menunjukkan efisiensi perekonomian kita semakin menurun,” terangnya.
Sebagai perbandingan, ICOR negara tetangga berada di kisaran 4–5 persen. Menurut Gundy, tingginya ICOR Indonesia disebabkan oleh faktor birokrasi, produktivitas rendah, dan berbagai hambatan lainnya.
Temuan Prasasti menunjukkan, sektor ekonomi digital memiliki ICOR jauh lebih rendah dibanding rata-rata nasional, yakni hanya 4,3 persen. Artinya, sektor ini 50 persen lebih efisien dibanding ICOR Indonesia saat ini yang mencapai 10,6 persen.
“Nah yang menarik, (ICOR) ekonomi digital itu angkanya 4,3 persen, atau sekitar 2 kali lipat lebih efisien kalau kita bandingkan dengan angka 10,6 persen, Sekitaran 50 persen lebih efisien kalau kita bandingkan dengan ICOR Indonesia saat ini,” ungkap Gundy.
Baca juga: Ekonom Beberkan Faktor Pendorong Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5 Persen
Untuk itu, Prasasti menilai, jika pemerintah mampu memanfaatkan potensi ekonomi digital dan menurunkan ICOR ke levell 4 persen, Indonesia akan lebih mandiri dalam pembiayaan pembangunan tanpa harus bergantung pada investasi asing.
“Kalau kita bisa menurunkan ICOR kita, mungkin kalau kita bisa mencapai ke level 4 persen, which is saat ini adalah ICOR untuk ekonomi digital, itu berarti kita sudah bisa bergantung kepada diri sendiri,” tegasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More
Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More
Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More
Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More
Poin Penting Nobu Bank catat laba Rp481,3 miliar di 2025, tumbuh 46,3% yoy. Kredit naik… Read More