Praktisi Beberkan Hambatan IPO untuk Perusahaan Menengah dan Solusinya

Jakarta – Para praktisi pasar modal dan ekonom mengungkapkan pandangan terkait tantangan yang dihadapi perusahaan menengah dalam mengakses pembiayaan melalui pasar modal, khususnya melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO).

Peneliti Indonesia Democracy Bridge Research Institute (Ind-Bri), Fauzan Luthsa, menyebutkan bahwa perusahaan menengah yang melakukan IPO berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Mereka menggunakan dana hasil IPO untuk perputaran modal kerja, penambahan kapasitas produksi, dan penambahan tenaga kerja. Hal ini akan berdampak pada peningkatan daya beli masyarakat,” ujar Fauzan dikutip, Minggu, 10 Agustus 2025.

Baca juga: Ada 5 Perusahaan Antre IPO, Mayoritas Beraset Jumbo

Sementara, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Prof. Budi Frensidy, menyoroti target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang ingin mencapai 1.100 emiten dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp25 ribu triliun pada akhir masa jabatan mereka.

Meskipun optimistis terhadap target tersebut, Prof. Budi mengingatkan agar kualitas emiten tetap menjadi prioritas.

“Jumlah emiten yang besar memang bagus untuk pasar modal, tetapi kita harus berhati-hati agar yang masuk ke pasar modal bukan hanya perusahaan-perusahaan kecil yang kinerjanya kurang stabil,” ujar Budi.

Biaya IPO dan Regulasi Jadi Penghambat Perusahaan Menengah

Pada kesempatan yang sama, pengamat pasar modal, Dipo Satria Ramli, menilai biaya proses IPO yang tinggi, antara Rp3 miliar-Rp5 miliar, serta persyaratan administratif yang rumit menjadi kendala besar bagi perusahaan menengah.

“Perusahaan menengah sering kali terhalang oleh biaya yang sangat besar dan persyaratan yang ketat untuk memenuhi standar yang ada di papan utama pasar modal,” ungkap Dipo.

Baca juga: Hermanto Tanoko Mau Bawa Perusahaan Kimia IPO, Ini Bocorannya!

Dipo mengusulkan agar biaya IPO disubsidi dan prosedur bagi perusahaan menengah dibuat lebih sederhana.

“Contohnya bisa dilihat di negara-negara seperti Korea, di mana biaya IPO untuk perusahaan menengah disubsidi dan prosesnya jauh lebih fleksibel. Hal ini bisa mendorong lebih banyak perusahaan menengah untuk bertransformasi dan melantai di bursa,” lanjutnya.

Alternatif Pembiayaan Sebelum Masuk Bursa

Selain itu, Dipo menambahkan bahwa perbaikan regulasi perlu dibarengi dengan penyediaan alternatif pembiayaan yang lebih terjangkau bagi perusahaan menengah sebelum melantai di bursa.

Baca juga: Emiten Merry Riana Resmi IPO, Sahamnya Langsung Melesat 34,38 Persen

Sebagai informasi, hingga 8 Agustus 2025, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), yang didominasi perusahaan beraset menengah. Tiga sisanya merupakan perusahaan dengan aset besar. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Trump Sesumbar Hancurkan Iran dalam Semalam: Mungkin Selasa Malam

Poin Penting: Trump mengeklaim AS mampu menghancurkan Iran dalam satu malam dan menyebut kemungkinan beraksi… Read More

18 mins ago

Wacana Potong Gaji Menteri, Purbaya: Mungkin 25 Persen

Poin Penting Wacana pemotongan gaji menteri dan DPR masih dalam pembahasan. Menteri Keuangan Purbaya memperkirakan… Read More

31 mins ago

Ditopang Manufaktur, Laba BELL Naik 9 Persen jadi Rp12,57 Miliar di 2025

Poin Penting Trisula Textile Industries mencatat laba bersih Rp12,57 miliar pada 2025, naik 9 persen… Read More

34 mins ago

Bank Aladin Syariah Cetak Rapor Biru di 2025, Laba Melonjak 304 Persen jadi Rp150,71 Miliar

Poin Penting Bank Aladin Syariah berbalik dari rugi Rp73,73 miliar (2024) menjadi laba Rp150,71 miliar… Read More

44 mins ago

Harga Plastik Naik, Anggota DPR Desak Pemerintah Lindungi UMKM

Poin Penting: Anggota DPR mendesak pemerintah segera intervensi pasar menyusul harga plastik naik yang membebani… Read More

49 mins ago

BGN Sebut 21.801 Motor untuk SPPG Belum Dibagikan, Ini Alasannya

Poin Penting: BGN telah merealisasikan pengadaan 21.801 motor untuk kepala SPPG, namun belum didistribusikan. Seluruh… Read More

1 hour ago