Phapros Edukasi Pencegahan Stunting Sejak Dini

Phapros Edukasi Pencegahan Stunting Sejak Dini

Phapros Edukasi Pencegahan Stunting Sejak Dini
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Sidoarjo – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2021, PT Phapros Tbk menggandeng 250 santri dari 20 pondok pesantren di wilayah Sidoarjo dan Gresik untuk melakukan edukasi pencegahan stunting. Edukasi ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan dan kesehatan.

Manajemen Phapros menekankan pentingnya pencegahan stunting sejak dini, yakni dengan mengedukasi pelajar, dalam hal ini para santri tentang manfaat vitamin penambah darah yang bisa membantu menekan angka gizi buruk yang disebabkan oleh Anemia atau kekurangan darah.

“Kolaborasi dan dukungan dari Pemerintah Daerah serta komitmen tanggung jawab sosial industri untuk melakukan edukasi pencegahan stunting ini penting dilakukan, mengingat ini adalah tantangan kita bersama sehingga dibutuhkan peran dari berbagai pihak untuk bisa menurunkan angka stunting,” ujar Hadi Kardoko, Direktur Utama PT Phapros Tbk, Kamis, 21 Oktober 2021.

Anemia atau kurang darah kerap dialami remaja, khususnya remaja perempuan. Jika pada usia remaja mereka memiliki masalah kesehatan hal ini akan berdampak pada kerentanan penyakit saat mereka dewasa. 

Artinya, selain terkena stunting, anak dari ibu anemia juga berisiko lebih besar untuk terkena anemia. Ketika si anak yang anemia ini sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang ibu, lahirlah lagi anak yang stunting dan kondisi anemia lainnya.

“Karena itu Phapros sangat concern dengan hal ini. Kegiatan yang dilakukan Phapros saat ini menjadi awal dari rangkaian tanggungjawab sosial terkait stunting lainnya, dengan kolaborasi bersama Pemerintah Daerah,” imbuh Hadi.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Phapros, Tri Andayani mengatakan bahwa berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2012, tercatat ada 162 juta balita stunting dan 58 persen dari jumlah tersebut berada di Asia. 

“Penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi saat hamil hingga bayi tersebut berusia 2 tahun, serta bisa berakibat pada gangguan pertumbuhan berupa tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan rata-rata anak normal,” ucapnya.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2019 menunjukkan bahwa prevelansi stunting Indonesia sebesar 27,67 persen, meski mengalami penurunan 3 persen dibandingkan tahun 2013, angka tersebut belum mencapai standar WHO untuk stunting yang berada dibawah 20 persen.

“Melalui gerakan ini Phapros mengajak seluruh pihak untuk bersama melawan stunting demi mendukung perkembangan generasi Indonesia yang lebih baik,” tutupnya. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]