Poin Penting
Jakarta – Saham perusahaan energi Amerika Serikat (AS) meroket usai intervensi kekuasan yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro memicu kekhawatiran geopolitik global.
Mengutip BBC, Selasa (6/1), saham Chevron dibuka menguat lebih dari 4 persen, setelah sebelumnya melonjak lebih dari 7 persen pada perdagangan Senin (5/1). Penguatan serupa juga terjadi pada saham perusahaan energi lainnya, seperti ConocoPhillips dan Exxon.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, harga logam mulia turut menguat seiring pergeseran dana investor ke aset lindung nilai (safe haven). Harga emas naik sekitar 1,9 persen menjadi USD4.412 per ons, sementara perak melonjak 3,6 persen.
Logam mulia seperti emas dan perak memang kerap mengalami kenaikan saat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat karena dinilai lebih aman untuk investasi.
Adapun harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (5/1), seiring pelaku pasar mencermati potensi dampak intervensi Gedung Putih di Venezuela terhadap pasokan minyak mentah global.
Baca juga: Airlangga: Dampak Konflik AS-Venezuela Belum Pengaruhi Harga Minyak
Saat ini, harga minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 1 persen dan mendekati USD61,50 per barel, meski masih berada di bawah level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memanfaatkan cadangan minyak Venezuela yang sangat besar setelah merebut kekuasaan dari Nicolás Maduro. Trump juga menegaskan bahwa AS akan menjalankan negara tersebut hingga proses transisi dilakukan secara aman dan terukur.
Meski demikian, analis menilai langkah tersebut belum tentu berdampak langsung terhadap harga energi global.
Ahli Strategi Investasi Vasu Menon dari bank OCBC menyebut produksi minyak mentah Venezuela telah lama melemah dan saat ini hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total produksi minyak dunia.
Baca juga: Tensi Geopolitik AS-Venezuela Memanas, Apa Dampaknya ke Pasar Saham RI?
“Dibutuhkan biaya miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela, yang telah mengalami penurunan tajam sejak awal tahun 2000-an,” ujarnya, dikutip Selasa, 6 Januari 2026.
Sementara itu, saham-saham sektor pertahanan di seluruh Eropa naik tajam karena investor bereaksi terhadap tindakan AS di Venezuela.
Di Inggris, saham BAE Systems naik 5 persen sementara Rheinmetall Jerman melonjak lebih dari 8 persen..
“Ketegangan geopolitik yang meningkat seperti yang kita lihat selama akhir pekan biasanya akan membuat investor takut, tetapi pasar global telah menghindari aksi jual,” kata Russ Mould, Direktur Investasi di AJ Bell.
Baca juga: Rupiah Diramal Melemah Imbas Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Menurutnya, saham-saham sektor pertahanan seringkali naik ketika ada peningkatan ketegangan antara dua negara karena investor percaya bahwa peristiwa tersebut dapat mendorong pemerintah untuk menghabiskan lebih banyak uang untuk perlindungan militer.
“Wajar jika sektor ini diminati setelah pemimpin Venezuela ditangkap,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Sebanyak 93 persen anggaran BGN Rp268 triliun dialokasikan langsung untuk Program MBG. Porsi… Read More
Poin Penting Maybank Indonesia memilih bersikap realistis di tengah sinyal OJK terkait peluang kenaikan bank… Read More
Poin Penting Maybank Indonesia menerapkan strategi “dua kaki” dengan membagi pembiayaan otomotif ke dua entitas,… Read More
Poin Penting DPR mendorong mitigasi berlapis untuk menghadapi risiko krisis energi akibat konflik Timur Tengah.… Read More
Poin Penting Bank Neo Commerce (BNC) mencatat laba bersih Rp565,69 miliar pada 2025, melonjak 2.745… Read More
Poin Penting Inflasi Maret 2026 diperkirakan melandai ke 0,62 persen (mom), turun dari 0,68 persen… Read More