Market Update

Pertumbuhan Ekonomi AS Lampaui Ekspektasi

oleh Agung Galih Satwiko

 

PASAR saham global hari Jumat minggu lalu umumnya banyak yang libur Paskah. Beberapa bursa yang buka cenderung menguat. Indeks Nikkei menguat 0,65% dan Shanghai Composite menguat 0,62%. Eropa dan AS libur Paskah. Pagi ini pasar Asia dibuka menguat, indeks Nikkei naik 0,78% (08.05 WIB).

Jepang masih kesulitan untuk meningkatkan laju inflasinya. Data inflasi Jepang bulan yang dirilis Jumat menunjukkan headline inflation sebesar 0,3% yoy. Sementara inflasi inti naik 0,8% yoy. Lemahnya tekanan terhadap harga ini menimbulkan kekhawatiran bahwa BOJ akan kesulitan dalam mencapai target inflasi 2%. Rendahnya kenaikan gaji pegawai membuat daya beli masyarakat relatif stagnan. Pada bulan Januari lalu BOJ menurunkan tingkat bunga acuan menjadi negative. Gubernur BOJ juga menyebutkan bahwa tidak ada batas dalam kebijakan pelonggaran moneter Jepang.

Pertumbuhan ekonomi AS tahun 2015 tercatat sebesar 1,4%, melampaui estimasi pelaku pasar yaitu sebesar 1%. Belanja konsumen berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi AS yang cukup solid. Hal ini menunjukkan ekonomi domestik cukup stabil dan bertumbuh. Namun demikian, pada Q4 keuntungan korporasi AS turun 8,1% dibandingkan Q3. Untuk keseluruhan tahun 2015, keuntungan korporasi AS masih meningkat 3,3% dibandingkan 2014. Minggu ini investor menantikan data inflasi AS bulan Februari dan data ketenagakerjaan AS bulan Maret. Kedua indikator ini adalah leading indicators yang akan menentukan kemungkinan kenaikan Fed Fund rate.

Sementara perkembangan e-commerce di Indonesia menjadi perhatian Negara-negara di kawasan regional. Banyak perusahaan startup baik di Indonesia maupun dari Negara tetang seperti Singapura mengembangkan aplikasi berbasis smartphone untuk memenuhi pasar yang cukup besar di Indonesia. Sekitar sepertiga dari 250 juta penduduk Indonesia memiliki akses internet, di mana 70%-nya mengakses internet melalui smartphones. Jumlah perdagangan melalui e-commerce di Indonesia meningkat dari USD12 miliar pada tahun 2014 menjadi USD18 miliar pada tahun 2015. Permintaan terhadap produk tradisional seperti transportasi online, belanja makanan dan jasa secara online yang terus meningkat diiringi dengan permintaan atas produk-produk yang lebih variatif, seperti private virtual assistance. Meskipun masih banyak tantangan baik dari sisi regulasi, infrastruktur jaringan, dan perlindungan konsumen, namun e-commerce diperkirakan akan menjadi keniscayaan dan menjadi penopang signifikan ekonomi Indonesia di masa mendatang.

Harga minyak dunia pada perdagangan hari Kamis ditutup turun meskipun Baker Hughes melaporkan turunnya jumlah kilang minyak AS sebanyak 15 unit menjadi 372. WTI crude Nymex untuk pengiriman Mei turun USD0,33 (0,8%) ke level USD39,46 per barrel. Sementara Brent crude London’s ICE untuk pengiriman Mei turun USD0,03 (<0,1%%) ke level USD40,44 per barrel. Harga minyak cenderung turun sepanjang minggu lalu (WTI crude turun 4%), satu dan lain hal karena menguatnya USD sebesar 1,1% terhadap basket currencies mata uang utama dunia (ICE US Dollar Index) sepanjang minggu lalu.

Yield US Treasury bonds (UST) naik karena kemungkinan naiknya Fed Fund rate meningkat. Yield UST 10 year naik 3 bps ke level 1,90%. Sejak awal tahun ini, yield UST 10 year telah turun 37 bps (akhir tahun lalu 2,27%). Sementara itu yield UST 30 tahun naik 1 bps ke level 2,67%. Di Eropa, yield German bund tenor 10 tahun turun 1 bps ke level 0,18%.

Pasar SUN hari Kamis ditutup stabil, yield SUN tenor 10 tahun naik 1 bps ke level 7,78%. Yield SUN tenor 10 tahun telah turun 96 bps sejak akhir tahun lalu yang tercatat sebesar 8,74%. IHSG ditutup turun 27 poin (0,6%) ke level 4.827,1. Investor asing membukukan net sell sebesar Rp124,1 miliar, sehingga year to date investor asing membukukan net buy sebesar Rp4,9 triliun. Year to date IHSG membukukan peningkatan indeks sebesar 5,1% (IHSG akhir tahun lalu sebesar 4.593,00). Sementara itu, nilai tukar Rupiah melemah Rp75 ke level Rp13.258 per Dolar AS. NDF Rupiah 1M melemah Rp52 ke level Rp13.317 per USD. Persepsi risiko naik, CDS spread 5Y meningkat 6 bps ke level 207. CDS spread telah turun 23 bps dari akhir tahun lalu yang tercatat sebesar 230 bps. (*)

 

Penulis adalah staf Wakil Ketua DK OJK

Paulus Yoga

Recent Posts

BEI Bidik 50 Ribu Investor Syariah Baru di 2026

Poin Penting Investor syariah melakukan 30,6 miliar saham dengan frekuensi 2,7 juta kali pada 2025.… Read More

18 mins ago

OJK Setujui Penggabungan 4 BPR Menjadi PT BPR Nusamba Tanjungsari

Poin Penting OJK menyetujui merger empat BPR di Priangan Timur menjadi PT BPR Nusamba Tanjungsari… Read More

36 mins ago

Adu Laba BCA, BRI, Bank Mandiri, dan BNI di 2025, Siapa Paling Cuan?

Poin Penting BCA tetap memimpin laba bersih – PT Bank Central Asia (BCA) mencatat laba… Read More

49 mins ago

OJK-Kemenkeu Kompak Tekan Bunga Kredit, Targetkan Lebih Rendah dari 8 Persen

Poin Penting OJK dan Kemenkeu berkoordinasi menurunkan bunga kredit melalui penempatan dana pemerintah dan pengendalian… Read More

55 mins ago

Perkuat Tata Kelola dan Etika Digital, BSI Raih ISO Global 27701:2019

Poin Penting BSI meraih sertifikasi internasional ISO 27701:2019 sebagai bukti komitmen memperkuat perlindungan data pribadi… Read More

1 hour ago

Bank Mandiri Proyeksikan BI Rate Dipangkas 2 Kali pada 2026

Poin Penting Bank Mandiri memproyeksikan BI Rate hanya dipangkas maksimal dua kali pada 2026 dengan… Read More

2 hours ago