Founder & CEO QM Financial sekaligus Lead Financial Trainer, Ligwina Hananto dalam Journalist Class di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026. (Foto: Erman Subekti)
Poin Penting
Jakarta – Perencanaan pensiun kerap dianggap rumit dan belum menjadi prioritas. Padahal, tanpa perhitungan yang jelas, masa pensiun berpotensi menjadi fase paling rentan secara finansial.
Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator sebagai referensi awal dalam menghitung kebutuhan dana pensiun secara lebih terarah dan realistis.
Alat ini tidak hanya menghitung kebutuhan dasar, tetapi juga mempertimbangkan gaya hidup yang ingin dipertahankan saat memasuki masa pensiun.
Melalui simulasi sederhana, Retirement Goal Calculator membantu individu memahami besaran dana yang perlu disiapkan. Sebagai ilustrasi, seorang profesional bernama Reza berusia 30 tahun, menargetkan pensiun pada usia 55 tahun dengan harapan hidup hingga 71 tahun.
Dengan tabungan awal berupa deposito Rp10 juta dan investasi Rp15 juta, serta tambahan dana Rp3 juta per bulan dan asumsi imbal hasil tahunan rata-rata 5,57 persen, Reza diproyeksikan membutuhkan dana pensiun sekitar Rp19,5 juta per bulan dalam nilai saat ini.
Baca juga: Bancassurance DBS Tumbuh Double Digit di 2025
Dengan masa pensiun selama 16 tahun dan asumsi inflasi 3,1 persen per tahun, total dana pensiun yang perlu disiapkan mencapai sekitar Rp2,52 miliar.
Angka tersebut mencakup kebutuhan dasar seperti konsumsi dan utilitas, hingga kebutuhan non-esensial seperti olahraga dan liburan.
Namun, kesiapan pensiun tidak berhenti pada kecukupan finansial. Transisi psikologis dan perubahan peran hidup juga menjadi tantangan besar ketika seseorang memasuki masa pensiun. Tanpa perencanaan yang matang, fase ini bisa terasa mengejutkan dan membingungkan.
Baca juga: Jurus OJK dan Kemenkeu Perkuat Industri Dana Pensiun
Founder & CEO QM Financial sekaligus Lead Financial Trainer, Ligwina Hananto menilai masih banyak masyarakat yang keliru memaknai waktu ideal untuk memulai perencanaan pensiun.
“Banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan,” ujarnya dalam Journalist Class di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.
Menurutnya, usia bukanlah faktor penentu utama, melainkan keputusan untuk mulai menyusun strategi sesuai kondisi saat ini.
“Baik dimulai di usia 20-an maupun 40-an, keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan agar strategi yang dibangun tetap adaptif,” jelasnya.
Sebagai langkah awal yang aplikatif, Ligwina merekomendasikan formula pengelolaan keuangan 10/20/30/40.
Dari pendapatan bulanan, minimal 10 persen dialokasikan untuk tabungan atau investasi, maksimal 20 persen untuk gaya hidup, maksimal 30 persen untuk cicilan, dan sisanya 40 persen untuk kebutuhan rutin.
“Formula ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan tujuan jangka panjang, termasuk pensiun,” imbuh Ligwina. (*) Alfi Salima Puteri
Poin Penting SBN Ritel masih layak dibeli tahun ini karena bersifat stabil, berisiko rendah, dan… Read More
Poin Penting Bisnis bancassurance Bank DBS Indonesia tumbuh double digit sepanjang 2025, sejalan dengan pertumbuhan… Read More
Poin Penting Rupiah melemah ke Rp16.955 per dolar AS, namun pemerintah menegaskan pelemahan ini tidak… Read More
Poin Penting Madu Pelawan Bangka tembus pasar internasional berkat keunikan rasa pahit, warna gelap, dan… Read More
Poin Penting Rotasi pejabat Kemenkeu–BI tidak mengganggu independensi BI, selama tidak ada intervensi langsung pemerintah… Read More
Poin Penting Transjakarta akan meningkatkan pengawasan melalui penambahan petugas di layanan dan pemantauan CCTV guna… Read More