Poin Penting
Jakarta – Persaingan industri keuangan semakin ketat. Termasuk bank perekonomian rakyat (BPR), mereka harus bersaing dengan perusahaan pembiayaan dan fintech lending dalam menyalurkan pinjaman ke nasabah.
Demi menjaga peta persaingan, Henry Palthy, Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DPD DKI Jaya dan sekitarnya, membeberkan dua faktor penting yang diharapkan bisa mendorong tingkat loyalitas nasabah untuk terus menggunakan servis bank rural.
“Pertama, itu harus ada kenyamanan yang dirasakan oleh nasabahnya. Kedua, adanya penambahan produk atau sesuatu benefit yang dirasakan oleh nasabah tersebut,” terang Henry di sela-sela perayaan Natal Perbarindo DPD DKI Jaya dan sekitarnya kepada Infobanknews, pada Jumat, 9 Januari 2026.
Baca juga: OJK Cabut Izin Usaha BPR Suliki Gunung Mas, Ini Alasannya!
Henry melihat, BPR-BPR di wilayah Jakarta punya segmentasi nasabah tersendiri dibanding dengan pesaingnya. Selama BPR mampu memberikan apa yang nasabah butuhkan, ia yakin pemain di industri bisa bersaing dengan pelaku keuangan lain.
Menurut Henry, kepercayaan nasabah terhadap BPR menjadi kunci di balik pertumbuhan BPR wilayah Jakarta yang terbilang bagus jelang akhir 2025, meskipun kondisi perekonomian dalam negeri bergejolak.
“Saya harap itu salah satu (alasannya) adalah kepercayaan masyarakat terhadap industri BPR. Walaupun mungkin secara nasional, bukan hanya BPR, tapi perekonomian kita juga mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi,” bebernya.
Baca juga: OJK Setujui Konsolidasi 130 BPR/BPRS Sepanjang 2025
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Oktober 2025, BPR di Provinsi DKI Jakarta mampu mencatatkan kinerja yang positif. Bahkan, beberapa indikator tumbuh lebih tinggi dibandingkan industri BPR nasional.
Dari sisi intermediasi, misalnya, penyaluran kredit tumbuh 8,02 persen secara year on year (yoy) dari Rp3,70 triliun menjadi Rp3,99 triliun. Sebagai perbandingan, kredit industri BPR nasional tumbuh 5,64 persen (yoy) pada periode yang sama.
Selanjutnya, Dana pihak ketiga (DPK) mengalami kenaikkan 4,66 persen (yoy) menjadi Rp4,82 triliun. Angka ini lebih tinggi dibanding industri BPR nasional yang sebesar 3,96 persen (yoy).
Adapun total aset mencapai angka Rp7,37 triliun atau tumbuh 3,90 persen (yoy) dari periode sebelumnya. Berdasarkan hasil kinerja keuangan tersebut, laba BPR di Provinsi Jakarta melesat 340,21 persen (yoy) menjadi Rp22,36 miliar. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Awaldi, Pemerhati SDM Bank dan Consulting Director Mercer Indonesia HUBUNGAN romantis nyaris tidak pernah runtuh… Read More
Poin Penting Spin-off UUS memasuki fase krusial menjelang tenggat akhir 2026 sesuai POJK No.11/2023, dengan… Read More
Poin Penting KPK menggelar OTT di Kanwil DJP Jakarta Utara, mengamankan delapan orang beserta barang… Read More
Komisi Kejaksaan Republik Indonesia mencatat telah menangani 29 perkara yang menarik perhatian publik sepanjang 2025.… Read More
Poin Penting Adira Finance Syariah meluncurkan Hasanah, produk pembiayaan Haji Plus berbasis prinsip syariah untuk… Read More
Poin Penting Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarief meminta sekolah kembali menerapkan protokol kesehatan… Read More