News Update

Persaingan Ketat, Kinerja BPR-BPRS Melambat

Jakarta – Kinerja keuangan Industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), selama beberapa tahun terakhir cenderung melambat bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu disampaikan oleh Eksekutif Senior Deputi Komisioner Pengawas IV Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Roberto Akyuwen. Menurutnya, secara nominal pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), dan kredit BPR-BPRS memang melambat secara industri, seiring dengan intensitas persaingan yang juga ikut meningkat.

“Sebenarnya tetap tumbuh, tapi tidak secepat industri lain. Persoalannya, pesaingnya itu, larinya lebih kencang. Jadi, salah satu faktornya itu peningkatan intensitas persaingan, artinya ada nasabah BPR-BPRS yang dilayani oleh lembaga keuangan lainnya karena berbagai persoalan, misalnya persoalan kemampuan menyediakan layanan yang lebih cepat, lebih mudah. Sementara, BPR-BPRS masih kesulitan karena terkadang butuh investasi,” ujarnya kepada Infobank, usai seminar nasional yang diselenggarakan Infobank dengan tema “Posisi dan Masa Depan BPR di Tengah Kebijakan Kredit Program”, di Jakarta, Jumat, 30 Agustus 2019.

Roberto menambahkan, perlambatan juga bisa disebabkan keterbatasan kemampuan BPR-BPRS dalam mengembangkan teknologi digital. BPR butuh investasi, sedangkan modal-nya terbatas sehingga nasabah berpindah dari BPR. “Bisa juga karena ketidakmampuan menjangkau. Ada potensi, tapi likuiditas terbatas, ada permintaan kredit tidak bisa dilayani artinya ke tempat lain,” tambahnya.

Ke depannya, OJK akan berupaya melakukan perbaikan atau dukungan perbaikan BPR, baik melalui pernyempurnaan regulasi yang dilakukan secara bertahap, serta melalui program transformasi. Dimulai dari pemetaan secara komperehensif, yakni memetakan ulang berbagai hal yang terkait dengan BPR yang menjadi kendala, terutama dari sisi kinerja keuangan, kondisi SDM dan kondisi sarana dan prasarana.

“Tahap terakhir dalam rangka berlari cepat adalah pengembangan produk dan layanan untuk memperluas jangkauan BPR terhadap nasabah yang potensial yang masih ada di berbagai sektor. Salah satu upaya yang paling strategis, seperti meningkatkan kemitraan antara BPR-BPRS dengan bank-bank yang berskala lebih besar kemudian dengan perusahaan fintech, dan dengan perusahaan penyedia jasa layanan digital,” pungkasnya. (*) Ayu Utami

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Pergerakan Saham Indeks INFOBANK15 di Tengah Koreksi IHSG

Poin Penting IHSG turun 3,05% pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026 ke level 7.137,21, diikuti… Read More

9 hours ago

Banyak Orang Indonesia Gagal Menabung karena Pola Keuangan Salah, Ini Solusinya

Poin Penting Banyak orang Indonesia gagal menabung karena pola keuangan yang keliru: penghasilan naik, pengeluaran… Read More

9 hours ago

Berikut 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 5,91% pada periode 9-13 Maret 2026 ke level 7.137,21, sementara kapitalisasi… Read More

9 hours ago

IHSG Sepekan Melemah Hampir 6 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.678 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 5,91% selama pekan 9–13 Maret 2026 dan ditutup di level 7.137,21.… Read More

9 hours ago

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah BPR Koperindo

Poin Penting LPS mulai membayar klaim simpanan nasabah BPR Koperindo sebesar Rp14,19 miliar pada tahap… Read More

9 hours ago

YLKI Yakin Satgas Ramadan Pertamina Mampu Jaga Pasokan BBM dan LPG saat Mudik Lebaran 2026

Poin Penting YLKI menilai pembentukan Satgas Ramadan dan Idulfitri oleh Pertamina sebagai langkah positif untuk… Read More

10 hours ago