Chief Economist Permata Bank Josua Pardede
Jakarta – PT Bank Permata Tbk (BNLI) atau Permata Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di kisaran 5,0 hingga 5,2 persen pada tahun 2025. Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,03 persen meski menghadapi tantangan global.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyebut pertumbuhan kredit di industri perbankan pada 2025 diproyeksikan mencapai 10,78 persen, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) tetap terjaga di posisi 89 persen.
“Pertumbuhan kreditnya kami perkirakan akan tetap stabil di kisaran 10,78 persen dengan LDR-nya akan tetap terjaga di kisaran 89 persen,” ujar Josua dalam Media Briefing di Jakarta, Senin, 10 Februari 2025.
Baca juga: Permata Bank Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen di 2025
Josua menjelaskan, proyeksi pertumbuhan kredit tersebut didasarkan pada pertumbuhan PDB nominal yang diperkirakan tetap tumbuh mendekati 8 persen.
Sementara itu, dari sisi LDR, industri perbankan saat ini menghadapi tantangan berupa pengetatan likuiditas. Hal ini tecermin dari LDR beberapa bank besar sepanjang 2024, seperti Bank BCA yang berada di angka 78,4 persen, Bank BRI di 87,76 persen, Bank BNI di 96,1 persen, dan Bank Mandiri di 98,04 persen.
LDR atau rasio pinjaman terhadap simpanan yang ideal menurut Bank Indonesia (BI) berada pada rentang 78-92 persen.
Oleh karena itu, Josua menyebut, untuk menjaga ekspansi penyaluran kredit di tengah tantangan likuiditas, industri perbankan telah menetapkan beberapa strategi, salah satunya adalah pemilihan kredit yang lebih selektif.
“Dari sisi strateginya, mungkin dari sisi strategi, mungkin banyak bank-bank ini akan lebih selektif, akan lebih selektif untuk dalam hal penyaluran kreditnya, menyesuaikan lagi dengan kondisi likuiditasnya,” imbuhnya.
Baca juga: BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2025 Sentuh 3,2 Persen
Adapun strategi lain yang diterapkan perbankan adalah memanfaatkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang kembali dilanjutkan oleh Bank Indonesia.
Program insentif ini mencakup likuiditas untuk sektor padat karya, yang diperkirakan dapat menjadi peluang bagi perbankan dalam melakukan ekspansi kredit pada tahun ini.
“Tentunya kami paham bahwa setiap bank pasti memiliki, divisi aset likuiditi, dan mereka pasti akan memiliki strategi untuk diversifikasi, misalkan sumber pendanaannya, itu saya pikir akan jauh bisa lebih memitigasi kondisi likuiditas, yang memang cukup mengetat,” ujar Josua. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Investor syariah melakukan 30,6 miliar saham dengan frekuensi 2,7 juta kali pada 2025.… Read More
Poin Penting OJK menyetujui merger empat BPR di Priangan Timur menjadi PT BPR Nusamba Tanjungsari… Read More
Poin Penting BCA tetap memimpin laba bersih – PT Bank Central Asia (BCA) mencatat laba… Read More
Poin Penting OJK dan Kemenkeu berkoordinasi menurunkan bunga kredit melalui penempatan dana pemerintah dan pengendalian… Read More
Poin Penting BSI meraih sertifikasi internasional ISO 27701:2019 sebagai bukti komitmen memperkuat perlindungan data pribadi… Read More
Poin Penting Bank Mandiri memproyeksikan BI Rate hanya dipangkas maksimal dua kali pada 2026 dengan… Read More