Ilustrasi: Gedung perkantoran PermataBank. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – PT Bank Permata Tbk (BNLI) atau Permata Bank optimis kredit konsumer bakal tumbuh 10 persen di tahun ini dari tahun sebelumnya.
“Untuk consumer credit kami tetap optimis ya, jadi kami memproduksikan itu pertumbuhan kurang lebih sekitar 10 persen. Tapi berbeda-beda ya, tergantung dari masing-masing segmen itu secara umumnya. Untuk dari sisi layanan dan lain sebagainya, secara umum kami merasa dan menilai bahwa tahun ini seharusnya lebih baik dari tahun lalu secara umum,” kata Haryanto, Division Head Consumer Lending Permata Bank kepada media di Jakarta, 14 Januari 2026.
Haryanto menambahkan pertumbuhan tersebut akan didukung oleh segmen pengusaha atau Small Medium Enterprises (SME) yang diproyeksi mengalami pertumbuhan lebih baik dari tahun lalu.
“Untuk credit card dan personal loan juga kami memprediksi masih bisa bertumbuh lebih baik dari tahun lalu dan juga untuk KPR dan kredit kendaraan bermotor, kami juga lebih optimis dibandingkan tahun lalu,” imbuhnya.
Baca juga: Permata Bank Bidik Pertumbuhan Kartu Kredit 20 Persen dari Travel Fair 2026
Untuk mendorong target tersebut, Permata Bank memiliki strategi yang berbeda. Dari sisi segmen pengusaha, pihaknya berharap dapat meraih dari transaksi usaha para nasabahnya melalui berbagai layanan yang diberikan seperti cash management hingga credit booking capital dan lain sebagainya.
“Kalau untuk yang consumer lain, bukan hanya segmen dari pariwisata yang kami berikan juga contohnya, tapi kami juga fokus kepada segmen yang lain misalnya seperti otomotif, dengan menjadi main sponsor di Gaikindo Jakarta, karena kami juga komitmen untuk mengembangkan industri otomotif, mendukung dan mengembangkan industri otomotif,” ujar Haryanto.
Permata Bank juga melakukan kerja sama dengan peer to peer (P2P) lending sebagai bagian dari inklusi finansial yang berfokus pada kredit konsumer. Ini menjadi alternatif perseroan dalam menggarap segmen tertentu yang tak dapat dikelola secara langsung.
Baca juga: Outlook 2026: Akankah Belanja Konsumen Tetap Kuat? Perspektif Industri Asuransi Indonesia
Menurut Haryanto, P2P lending memiliki proporsi nilai unik atau daya tarik tersendiri untuk dapat bekerja sama, didukung dengan digital underwriting, platform, hingga bisnis model, sehingga dapat saling memberikan nilai tambah bagi kedua pihak.
“Kalau saya rasa yang bank belum punya itu bisa di-complement oleh peer-to-peer, demikian juga peer-to-peer complement. Sisi dari kekuatan funding dari bank dan lain sebagainya, kekuatan banknya itu menjadi consideration,” tutupnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Konflik antara AS–Israel dan Iran berpotensi mengganggu rantai pasok global dan perdagangan internasional.… Read More
Poin Penting OJK menjatuhkan total denda Rp5,62 miliar kepada PT Bliss Properti Indonesia Tbk dan… Read More
Poin Penting Bank Danamon menyiapkan layanan operasional terbatas selama libur Nyepi–Idulfitri 18–24 Maret 2026. Sebanyak… Read More
Poin Penting THR tidak hanya untuk konsumsi Lebaran, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk… Read More
Poin Penting Tugure menyalurkan 300 paket sembako melalui program Bakti Sosial Ramadhan 1447 H. Seluruh… Read More
Poin Penting Rupiah melemah di pembukaan perdagangan ke level Rp16.971 per dolar AS, turun 0,08… Read More