Lebih lanjut dia mengungkapkan, sebenarnya perbankan membuka pintu bagi sektor ekonomi kreatif untuk memberikan pembiayaan. Namun demikian, kata dia, segmen-segmen di ekonomi kreatif harus jelas dan memiliki komitmen yang tinggi untuk membayar pinjamannya ke perbankan.
“Bank ini sebenarnya kalau segmennya bagus itu sudah pasti masuk, tapi kita membutuhkan komit yang begitu besar. Bank juga harus meyakini bahwa di sektor ini risikonya rendah, karena sangat prospektif,” ucap Sigit.
Menurutnya, ekspor Indonesia yang masih bergantung dengan komoditas sumber daya alam seperti batubara, minyak kelapa sawit, karet dan mineral, ditengah harga komoditas unggulan yang menurun, hal tersebut diharapkan menjadi cerminan perbankan untuk beralih membiayai ke sektor-sektor yang minim risiko. (Baca juga: Minim Risiko, Bank Diminta Bangun Ekosistem Ekonomi Kreatif)
“Saatnya perbankan itu bisa membiayai sektor ekonomi kreatif, jangan hanya kepada industri-industri besar saja. Perbankan harus memahami betul potensi dari sektor ekonomi kreatif ini. Dengan makin mengenal sektor ini diharapkan bank bisa membiayai sektor ekonomi kreatif,” tutupnya. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More
Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More
Poin Penting Pengguna MADINA naik 13% menjadi lebih dari 13.700, dengan frekuensi transaksi mencapai 2… Read More
Poin Penting ALFI mendesak pemerintah melakukan harmonisasi regulasi KBLI 2025 karena dinilai memicu inefisiensi dan… Read More
Poin Penting PKSS menargetkan pertumbuhan dengan memperluas pasar di luar BRI Group, membidik total 360… Read More
Poin Penting NPL konstruksi BTN menurun ke bawah 10%, dari sebelumnya sekitar 26%, dengan target… Read More