Lebih lanjut dia mengungkapkan, sebenarnya perbankan membuka pintu bagi sektor ekonomi kreatif untuk memberikan pembiayaan. Namun demikian, kata dia, segmen-segmen di ekonomi kreatif harus jelas dan memiliki komitmen yang tinggi untuk membayar pinjamannya ke perbankan.
“Bank ini sebenarnya kalau segmennya bagus itu sudah pasti masuk, tapi kita membutuhkan komit yang begitu besar. Bank juga harus meyakini bahwa di sektor ini risikonya rendah, karena sangat prospektif,” ucap Sigit.
Menurutnya, ekspor Indonesia yang masih bergantung dengan komoditas sumber daya alam seperti batubara, minyak kelapa sawit, karet dan mineral, ditengah harga komoditas unggulan yang menurun, hal tersebut diharapkan menjadi cerminan perbankan untuk beralih membiayai ke sektor-sektor yang minim risiko. (Baca juga: Minim Risiko, Bank Diminta Bangun Ekosistem Ekonomi Kreatif)
“Saatnya perbankan itu bisa membiayai sektor ekonomi kreatif, jangan hanya kepada industri-industri besar saja. Perbankan harus memahami betul potensi dari sektor ekonomi kreatif ini. Dengan makin mengenal sektor ini diharapkan bank bisa membiayai sektor ekonomi kreatif,” tutupnya. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting BSI membukukan laba bersih Rp7,57 triliun sepanjang 2025, naik 8,02 persen yoy, ditopang… Read More
Poin Penting Standard Chartered mendorong portofolio yang disiplin, terstruktur (core, tactical, opportunistic), dan terdiversifikasi lintas… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo melantik Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan, menggantikan Thomas Djiwandono yang… Read More
Poin Penting IHSG lanjut melemah tajam – Pada sesi I (6/2), IHSG ditutup turun 2,83%… Read More
Poin Penting Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun mempertahankan sovereign credit rating… Read More
Poin Penting Penurunan outlook dari stabil ke negatif dinilai Celios sebagai peringatan terhadap arah kebijakan… Read More