Ilustrasi Artificial Intelligence (AI) (foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengembangkan implementasi artificial intelegence (AI) atau kecerdasan buatan di sektor perbankan dengan tetap mengedepankan tata kelola dan manajemen risiko teknologi informasi yang memadai.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari penerapan Roadmap Pengembangan Perbankan Indonesia 2020-2025 (RP2I). Dalam Roadmap itu, digitalisasi menjadi salah satu pilar utama penguatan sektor perbankan, melalui pilar 2 yaitu Akselerasi Transformasi Digital.
Sebagai tindak lanjut dari Roadmap tersebut, OJK kemudian menerbitkan Buku Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia pada 29 April 2025 guna menjawab tingginya antusiasme para pemangku kepentingan untuk memahami arah pengembangan AI di sektor perbankan. Buku ini sebagai wujud dukungan terhadap akselerasi transformasi digital sektor perbankan.
Baca juga: Sejumlah BPR Ajukan Likuidasi Sukarela, Begini Tanggapan Bos OJK
“Buku ini disusun berdasarkan berbagai referensi internasional maupun nasional, dan memperhatikan hasil diskusi di berbagai lembaga internasional dengan menyesuaikan konteks kebutuhan dan pendekatan sektor perbankan Indonesia yang senantiasa mengedepankan prinsip kehati-hatian,” kata Dian dalam jawaban tertulis, dikutip, Kamis, 6 November 2025.
Tata kelola ini disusun OJK berlandaskan prinsip dasar AI yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Prinsip tersebut diselaraskan dengan nilai dan norma yang berlaku di Indonesia, serta mengacu pada praktik internasional.
Dian menyebut terdapat tiga nilai utama yang menjadi fondasi tata kelola AI diantaranya, keandalan (Reliability), untuk memastikan bahwa keputusan yang dihasilkan selaras dengan strategi dan tujuan bank.
Nilai ini mencakup aspek Dapat Dijelaskan (Explainability) yaitu memastikan bahwa output yang dihasilkan oleh sistem AI dapat dijelaskan dan robust dan aspek keamanan & ketahanan (Security & Resilience).
Kemudian, akuntabilitas (Accountability), agar setiap sistem dapat dipertanggungjawabkan secara menyeluruh. Nilai ini mencakup aspek transparan (Transparency) dan Privasi Data (Data Privacy) guna memastikan dan menjamin bahwa data nasabah yang digunakan oleh sistem AI dilindungi. Serta, pengawasan oleh manusia (Human Oversight), sebagai syarat mutlak dalam mewujudkan sistem kecerdasan artifisial yang layak dipercaya.
Baca juga: Tanggapan Bos OJK Soal Kinerja Himbara Kuartal III 2025 Usai Disuntik Rp200 Triliun
Selain itu, tambah Dian, perlunya integrasi tiga elemen dalam tata kelola AI, yakni sumber daya manusia (SDM), proses yang mencakup kebijakan, prosedur, serta manajemen risiko dan kepatuhan, dan teknologi, yang harus bersifat transparan, aman, dan adaptif terhadap risiko.
“OJK menegaskan pentingnya tata kelola AI yang bijak dan adaptif serta mendorong pemanfaatan AI secara bertanggung jawab untuk memperkuat efisiensi, inovasi, dan inklusi keuangan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More
Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More
Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More
Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,26 persen ke level 6.971,02. Mayoritas sektor melemah, dipimpin sektor… Read More