Categories: Analisis

Perjuangan Bank Muamalat di Restrukturisasi Kredit Bank Buku 2

Jakarta – Meninjau kembali restrukturisasi kredit perbankan yang didominasi oleh para bank pelat merah, Bank Muamalat menjadi pionir di restrukturisasi kredit untuk kelompok bank dengan modal inti Rp 1 triliun hingga dibawah Rp 5 triliun. Total kredit yang direstrukturisasi Bank Muamalat per kuartal ketiga 2017 mencapai hingga Rp 14 triliun, atau 34,79 persen dari total kredit yang disalurkan yakni sekitar Rp 40 triliun. Meskipun demikian, ternyata capaian tersebut hanya tumbuh sebesar 1,77 persen secara year on year (yoy). Berdasrkan kualitas aktiva produktifnya, Bank Muamalat memiliki angka kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang cenderung tinggi pada kuartal ketiga 2017 yakni 4,54 persen, jauh diatas rata-rata industri perbankan yang berada di angka 2,93 persen. Kredit bermasalah tersebut juga tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal ketiga 2016 yang berada pada 4,43 persen.

Meskipun masih berada dibawah NPL kompetitornya di bank BUKU 2, yakni Bank Papua yang NPL nya menyentuh angka fantastis yaitu 16,59 persen , Bank BPD Kalsel yang mencapai 6,34 persen, Bank Kaltimtara di angka 7,43 persen, Bank BNP sebesar 7,38 persen, Bank Sumut sebesar 5,05 persen, dan Bank SBI Indonesia yaitu sebesar 5,21 persen.

Besarnya angka NPL tersebut dapat berpotensi membengkak jika tidak dilakukan pengawasan kualitas kredit. Bank Muamalat juga telah melakukan perbaikan kualitas aktiva produktifnya dengan pengetatan penyaluran kredit. Penyaluran kredit terhadap total dana yang dihimpun atau Loan to Deposit Ratio (LDR) pada kuartal ketiga 2017 tercatat sebesar 86,14 persen, menurun dari periode yang sama tahun sebelumnya yakni 96,47 persen.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi kredit macet yang justru meningkat. Kredit lancar Bank Muamalat turun sebesar 5 persen (yoy) sedangkan kredit dalam perhatian khusus naik signifikan 51,18 persen, kredit kurang lancar naik hingga mencapai 279,08 persen, kredit diragukan naik 218,89 persen, dan kredit macet yang berhasil turun 36,21 persen berkat restrukturisasi.

Meningkatnya angka kredit bermasalah dengan kolektibilitas dua hingga empat tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab membengkaknya angka kredit bermasalah. Pengawasan bank kini bukan semata-mata fokus pengendalian kredit melainkan potensi moral hazard yang timbul dari para debitur.

 

Untuk lebih lengkap mengenai catatan kredit macet 2018, anda dapat mengunduh majalah Infobank Edisi Februari 2018 di InfobankStore

Risca Vilana

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

4 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

5 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

5 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

6 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

7 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

8 hours ago