Ilustrasi: Pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Foto: isitmewa)
Oleh Ryan Kiryanto, Ekonom Senior, Praktisi Perbankan dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia/LPPI)
CAPAIAN realisasi ekonomi Indonesia pada triwulan 4-2025 yang tumbuh 5,39 persen (year on year/yoy) terhadap triwulan 4-2024 dan 5,11 persen sepanjang tahun 2025 (ctc) harus diapresiasi. Serangkaian kebijakan stimulus, utamanya stimulus fiskal, mampu menopang perekonomian tumbuh positif, meskipun masih di bawah target APBN 2025 yang sebesar 5,2 persen. kebijakan moneter yang pro pertumbuhan, tanpa mengendurkan stance pro stabilitas, juga mampu menopang ritme perekonomian pada jalur pertumbuhan yang cukup kuat.
Secara analitis, untuk pertumbuhan ekonomi triwulan 4/2025 (yoy), dipengaruhi secara positif oleh lima faktor utama.
Pertama, konsumsi masyarakat. Ditandai oleh konsumsi perkapita kelompok jasa makan minum dan akomodasi serta kelompok barang dan jasa lainnya masing-masing tumbuh 10,66 persen dan 6,11 persen (yoy). Pertumbuhan transaksi online dari e-retail dan marketplace sebesar 12,20 persen (qtq) berdasarkan penyampaian data perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE).
Indeks penjualan eceran riil tumbuh 5,00 persen (yoy) dan 3,12 persen (ctc). Nilai transaksi uang elektronik (e-money), kartu debit, dan kredit tumbuh 14,46 persen (yoy) dan 9,91 persen (ctc). Terakhir, belanja bantuan sosial tunai tumbuh 66,88 persen (yoy) dan 18,44 persen (ctc), kenaikan belanja bansos sudah termasuk penebalan bansos sebesar Rp7,1 triliun pada Juni-Juli 2025 dan sebesar Rp29,9 triliun pada Oktober-Desember 2025.
Kedua, aktivitas produksi. Produksi padi triwulan 4-2025 tumbuh 7,27 persen (yoy) dan 13,29 persen (ctc). Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur (IKBM) berada pada zona ekspansi sebesar 52,21. Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia juga berada pada zona ekspansi sebesar 51,86. Terjadi peningkatan pendapatan usaha jasa pendidikan tinggi. Juga penjualan listrik triwulan 4-2025 tumbuh 3,49 persen (yoy) dan 3,75 persen (ctc).
Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,11 Persen, Celios: Dari Mana Sumber Pertumbuhannya?
Ketiga, realisasi investasi. Ditandai oleh nilai impor barang-barang modal yang menjadi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh sebesar 22,17 persen (yoy) dan 20,91 persen (ctc). Realisasi PMDN dan PMA juga tumbuh 9,74 persen (yoy) dan 12,66 persen (ctc). Diperkuat oleh belanja modal pemerintah dalam APBN yang tumbuh 40,14 persen (yoy) dan 17,40 persen (ctc).
Keempat, mobilitas masyarakat yang meningkat pasca pandemi Covid-19. Hal ini dipicu oleh momen libur Nataru dan penyelenggaraan berbagai event domestik yang mendorong peningkatan mobilitas masyarakat. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 13,42 persen (yoy) dan 17,55 persen (ctc). Jumlah penumpang juga mengalami peningkatan di beberapa moda transportasi, yaitu angkutan rel tumbuh 9,96 persen (yoy) dan 8,88 persen (ctc), angkutan laut tumbuh 9,80 persen (yoy) dan 16,48 persen (ctc), angutan Sungai, danau dan penyeberangan tumbuh 3,35 persen (yoy) dan 12,02 persen (ctc).
Kelima, kebijakan ekonomi yang pro pertumbuhan. Hal ini ditopang oleh kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi sehingga terkendali di sepanjang 2025 sebesar 2,92 persen (yoy). Di samping itu penyaluran kredit perbankan tumbuh sebesar 9,69 persen (yoy) dengan dukungan kebijakan moneter Bank Indonesia yang cukup longgar ditandai oleh posisi BI Rate berada pada level 4,75 persen. Kebijakan fiskal yang agresif melalui penyediaan paket stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli dan mendorong aktivitas ekonomi dari sisi permintaan, termasuk diskon tarif tiket transportasi selama periode libur Nataru.
Yang juga menggembirakan, resultan dari bauran kebijakan yang harmonis – fiskal, moneter, investasi dan keuangan, mendorong lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi, termasuk sektor ekonomi padat karya, yakni industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan.
Dalam hal ini, lapangan usaha dengan pertumbuhan tinggi, yaitu transportasi dan pergudangan lantaran peningkatan mobilitas masyarakat seiring dengan Libur Nataru dan kebijakan stimulus diskon tarif angkutan. Lalu lapangan informasi & komunikasi tumbuh didukung oleh peningkatan aktivitas pengguna internet dan peningkatan traffic data operator seluler. Juga lapangan usaha jasa keuangan tumbuh ditopang oleh pertumbuhan kredit perbankan dan pendapatan premi asuransi.
Alhasil, seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif pada triwulan 4-2025 (yoy), dimana komponen pengeluaran dengan kontribusi besar terhadap ekonomi, yaitu konsumsi rumah tangga (5,11 persen) dan PMTB (6,12 persen). Konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) juga tumbuh cukup tinggi (5,90 persen) didorong oleh peningkatan aktivitas organisasi kemasyarakatan dalam penanganan bencana di Sumatera.
Sementara itu, gambaran pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk sepanjang tahun 2025 dapat disimpulkan sebagai berikut. Sebagian besar lapangan usaha tumbuh positif pada tahun 2025 (ctc) dimana lima lapangan usaha dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi, yakni Industri Pengolahan (19,07 persen), Perdagangan (13,17 persen), Pertanian (13,10 persen), Konstruksi (9,83 persen), dan Pertambangan (8,75 persen).
Hal tersebut didukung oleh membaiknya industri penghasil komoditas ekspor seperti CPO dan logam dasar, serta meningkatnya produksi tanaman pangan, peternakan dan perikanan. Kinerja ini pun layak diapresiasi karena sifat padat karya masih kuat melekat sehingga memberikan dampak pengganda yang luas bagi perekonomian nasional secara menyeluruh.
Di sektor sekunder dan tersier, lapangan usaha dengan pertumbuhan tinggi meliputi jasa lainnya (9,93 persen) didorong oleh peningkatan aktivitas rekreasi sejalan peningkatan jumlah wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Jasa perusahaan tumbuh 9,10 persen didukung oleh peningkatan aktivitas agen perjalanan dan penyelenggaraan berbagai event nasional dan internasional. Transportasi dan pergudangan tumbuh 8,78 persen ditopang oleh peningkatan jumlah penumpang di berbagai moda transportasi, serta peningkatan aktivitas pengiriman barang baik domestik maupun luar negeri.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal IV-2025 Melesat 5,39 persen
Dapat diringkas bahwa seluruh komponen pengeluaran tumbuh positif pada tahun 2025 (ctc), dengan ekspor tumbuh tertinggi (7,03 persen) didorong oleh kenaikan nilai ekspor barang nonmigas serta ekspor jasa. Konsumsi Rumah Tangga (tumbuh 4,98 persen) dan PMTB (tumbuh 5,09 persen) masih merupakan penyumbang utama produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2025, dengan akumulasi kontribusi sebesar 82,65 persen.
Ke depan, kontribusi PMTB harus diperkuat untuk mendorong kenaikan level Indonesia menjadi negara industri di mata investor asing dengan tetap memprioritaskan kepentingan nasional. Kebijakan investasi harus diupayakan ramah investor sehingga Indonesia masuk ke radar global sehingga menjadi magnet dan target investasi global.
Dampak positif dari pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen tersebut adalah kemampuan membuka lapangan kerja lebih luas sehingga dapat menurunkan angka pengangguran. Untuk itu, keberlanjutan bauran kebijakan yang kredibel dan sinergis di tingkat nasional seyogyanya dilakukan dengan kesadaran untuk memperbaiki arah, design dan stance kebijakan mengingat faktor TUNA (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity) yang kuat dan sulit diprediksi –terutama oleh faktor eksternal yang sangat dinamis– masih melingkupi perekonomian Indonesia.
Daya kritis pengambil kebijakan menyikapi faktor TUNA ini dimaksudkan agar target pertumbuhan ekonomi tahun ini yang sebesar 5,4 persen dapat dicapai, bahkan terlampaui, sebagai modal berharga menuju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi ke level 7 persen, lalu berlanjut ke level 8 persen.
Yang juga mengesankan, namun harus menjadi kewaspadaan ke depannya, adalah bahwa di sepanjang tahun 2025 lalu, wilayah Jawa (tumbuh 5,30 persen) dan Sulawesi (tumbuh 6,23 persen) di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang 5,11 persen.
Konsentrasi pertumbuhan ekonomi di Jawa yang sebesar 56,93 persen – dapat dikatakan sangat dominan, harus mendapat perhatian serius oleh seluruh pengambil kebijakan mengingat pemerataan pertumbuhan ekonomi dengan distribusi hasil pertumbuhan ke seluruh wilayah Indonesia harus menjadi agenda strategis kebijakan politik pemerintah ke depan guna memperkuat sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Intinya, pertumbuhan ekonomi tinggi yang berkualitas, inklusif dan berkelanjutan harus menjadi prioritas strategi pemerintah saat ini dan ke depannya. (*)
Poin Penting Antrean KJP Februari 2026 wajib daftar online melalui Dharma Jaya atau Pasar Jaya.… Read More
Poin Penting IHSG sesi I ditutup menguat 1,26 persen ke level 8.132,75 pada perdagangan Selasa… Read More
Poin Penting BPNT dan PKH tahap I 2026 cair Februari untuk sekitar 18 juta KPM.… Read More
Poin Penting KPR BTN tumbuh double digit sepanjang 2025, dengan KPR Subsidi naik 10% yoy… Read More
Jakarta - FTSE Russell mengumumkan akan melakukan penundaan review indeks Indonesia untuk periode Maret 2026.… Read More
Program UOB My Digital Space merupakan bagian dari inisiatif regional yang bertujuan mengentas kesenjangan digital… Read More